Selasa, 18 Oktober 2011

Take Action in Taman Bungkul

         Pagi itu kami berkumpul di scc jam 7. Kami bersiap-siap menuju ke Taman Bungkul untuk berjuang melatih intuisi kami terhadap pasar(wirausaha) di Taman Bungkul dengan berjualan. Berjualan apapun, dan uniknya, kami hanya dibekali uang Rp 20,000 untuk memulai usaha selama 2 jam untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.
         Pagi yang menantang itu pun datang memberikan semangat berjualan. Sebelum sampai ditempat jualan kami menemui beberapa kendala, seperti transport yang memang keberangkatan kami hanya bermodal tekad. Semangat mencari tumpangan dan helm pun mengawali hari itu. Dengan kekuatan tekad, akhirnya kami tiba di Kabun Binatang Surabaya. Lho? Karena hari itu ada car free day di jln. Darmo.
          Setelah persiapan (mengumpulkan tas dan dompet) di masjid Al Falah kami langsung menuju ke lokasi Taman Bungkul. Yeah... gak terlalu ramai, karena kami tiba disana hampir jam 9.00 (terkendala transport) yang seharusnya jam 8.00.
          Berkeliling mengitari taman bungkul untuk pertama kali (kelompoku orang desa semua..) untuk mencari barang dagangan mana yang akan kami jual kembali. Dan akhirnya kami membeli arum manis 5 biji yang harga awalnya adalah Rp. 15.000,00 kami dapatkan hanya Rp. 11.000,00. Kering tenggorokan kami, kami membeli 5 buah aqua gelas seharaga Rp. 500,00 untuk kami jual dengan harga paket Rp. 3000 untuk 1 arum manis dan 1 buah aqua. Jika kami berhasil menjualnya semua kami hanya mendapat untung Rp. 1.500,00.
          Dengan sedikit ragu, malu dan takut, kami mulai menjual barang dagangan kami mengitari Taman Bungkul. "Dek, mau arum manis? Enak lho... Dapat aqua juga." Begitulah salah satu dialog kami dengan orang-orang yang sedang menikmati kelengangan di sana. Mungkin 1 banding 7 untuk perbandingan penawaran dan barang yang dibeli. Tidak terlalu mudah.
          Setelah dagangan laris, yang hanya memberikan keuntungan sedikit, kami mulai menggunakan strategi jualan yang berbeda. Kali ini kami tidak membeli barang terlebih dahulu, tetapi kami berpartner dengan pedagang asongan. Kami bernegosiasi untuk membagi keuntungan dari apa yang kami jual. Dan kami pun membantu jualan Aqua, mizone dan telur puyuh. Lumayan untuk menambah keuntungan.
           Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.00. Ajang jualan selesai. Kami membuat laporan keuangan dan istirahat sejenak sambil makan minum. Pengumuman keuntungan jualan. Keuntungan terkecil adalah kelompok yang menjual nasi pecel dengan Rp 1.000,00. Maklum, karena hari sudah mulai beranjak siang dan kebanyakan pengunjung telah sarapan. Dan yang mencengangkan, kelompok dengan penjualan terfantastis yaitu dengan meraih keuntungan sebesar Rp 62.000,00. Usut punya usut, mereka memakai taktik yang jitu. Setiap dari mereka berjualan dengan barang berbeda dan di tempat yang berbeda, seperti Kebun Binatang dan di Traffic light. Sangat inspiratif.
            Hari itupun menyisakan kenangan pahit manis berjualan, ditolak, dan lain-lain. Dan dari situ, terpetiklah banyak pelajaran yang sangat berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar