Senin, 31 Oktober 2011

Serba Serbi Menulis dari Pak Rudi Santosa

Menulis adalah kemerdekaan. Karena menulis itu bebas. Di negara Indonesia yang berasaskan Pancasila ini, siapapun boleh berpendapat.  Tak terkecuali seorang penjual nasi goreng yang bertweet ria meramaikan pasar internet.
Seorang penjual makanan, mahasiswa, jurnalis, politikus, dan berbagai bidang lainnya, memiliki peranan yang berbeda dalam berpartisipasi di dunia tulis menulis negeri ini.

Misal seorang politikus yang menulis tentang suatu permasalahan dalam pemerintahan sering diaanggap tidak asli dan memihak dari sudut pandang partainya. Jika seorang jurnalis yang menulis, mungkin dia akan mencari kekurangan apa yang dapat dijual melalui artikel yang akan ditulisnya.

Berbeda lagi jika mahasiswa yang menulis.

Dimungkinkan, di antara sekian bidang sudut pandang mahasiswa memiliki sudut pandang netral dengan kemampuan dan ilmu yang lumayan mumpuni untuk mengkaji suatu permasalahan.

Jika mahasiswa menulis, mahasiswa bisa menjadi kontrol rezim pemerintahan yang berlangsung. Demo? Sepertinya sudah tak jamannya lagi. Menulis memberikan lebih banyak manfaat daripada demo. Selain jangkauan yang luas dan berpengaruh disegala usia(tentunya yang dapat membaca) juga efisien tenaga dan waktu.

-ganti tema- :)
Jika ada masalah, tulis saja. Baca, renungkan, mungkin akan mendatkan solusinya sendiri tanpa repot konsultasi. Pernahkah merasa galau? Hebat sekali anda mau mengakuinya. Beberapa saran dari seorang guru, tulis saja masalahmu(galau). Coba deskripsikan detail masalah yang 'menggalaukan'. Nikmati saja prosesnya. Mungkin, tak disangka-sangka perasaan galau mulai memudar. Jangan percaya kalau belum nyoba yah.. hehehe Just Try it at Home.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar