Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Aku Kelinci yang konsisten!


Pernah dengar cerita tentang dongeng Kelinci dan Kura-kura bukan? Aku yakin semua orang pernah mendengar dongeng masa kecil ini.
Ini adalah kisah perlombaan antara kelinci dan kura-kura. Kelinci, karena merasa puas telah meinggalkan kura-kura jauh dibelakang dalam waktu yang singkat begitu perlombaan dimulai, akhirnya memutuskan untuk tidur siang sebentar. Kelinci itu berpikir bahwa kura-kura tidak akan memiliki kesempatan untuk menang karena kelinci akan lari lagi setelah bangun dari tidurnya. Kelinci tersebut sangat yakin akan dapat mengalahkan si kura-kura. Sementara itu, kura-kura secara perlahan dan terus-menerus melewati kelinci yang masih beristirahat. Langkah demi langkah, merangkak perlahan, kura-kura pun mendekati garis akhir. Ketika kelinci terbangun, kura-kura sudah berada jauh di depan, mendekati garis akhir. Kelinci berniat berlari secepat mungkin. Tetapi, sudah terlambat. Kura-kura akhirnya memenangkan perlombaan. To be continued(new version)
Moral dari cerita ini adalah “perlahan dan terus-menerus” akan dapat memenangkan perlombaan.
Cerita ini dikisahkan oleh guru-guru di seluruh dunia kepada setiap anak yang memasuki sekolah taman kanak-kanak. Perlahan dan terus-menerus akan memenangkan perolombaan. Kita tidak harus cepat karena selama kita bekerja terus-menerus, pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan sebagai anak kecil kita setuju.
Sekarang, pertanyaannya adalah: Apa yang akan terjadi dalam cerita ini jika kelinci tersebut tidak berhenti untuk beristirahat? Apa yang akan terjadi jika kelinci berlari secepatnya dari awal perlombaan sampai mencapai garis akhir? Dapatkah kura-kura mengejarnya?
Nah, meskipun aku diajari oleh guru sekolah taman kanak-kanak bahwa menjadi kura-kura adalah baik, aku tetap memilih menjadi kelinci. Aku memilih menjadi kelinci yang selalu berlari secepat mungkin dan tidak beristirahat sebelum mendapatkan apa yang saya inginkan. Tidak ada kura-kura mana pun, yang giat dan rajin, daoat mengejarku.
Memang benar bahwa perlahan dan terus-menerus akan menyelesaikan perlombaan. Tetapi, juga benar bahwa “cepat dan konsisten” akan menag lebih dahulu.
Oleh karena itu, sementara orang lain diberitahu untuk menjadi kura-kura yang giat bekerja dan rajin, kita dapat memilih menjadi kelinci yang berlari cepat dan berhenti hanya kerika sudah mencapai apa yang kita inginkan.
Kita akan menang. Insyaallah dijamin.

Jika Aku Menjadi Presiden Indonesia



Saya kira setiap orang yang hidup di tanah air Indonesia ini mengetahui apa itu arti presiden. Walaupun ada beberapa daerah terpencil yang tidak mengetahui presiden masa sekarang. “Bukankah Gus Dur Presiden RI?” dengan polosnya orang di pulau terpencil di perbatasan kalimantan dan Malaysia itu menjawab.
Hampir satu dasawarsa presiden Gus Dur telah menanggalkan jabatannya yang hanya 2 tahun. Namun Presiden RI masa kini, SBY belum bisa menggeser kemasyhuran presiden Gus Dur. 2 Periode kepemimpinan SBY, masih kalah dengan ketenaran Gus Dur selama 2 tahun.
Jika aku menjadi presiden, sosok Gus Dur lah yang aku jadikan panutan di Indonesia ini. Mungkin tak mudah menjadi presiden, tapi jika bangsa ini maju presidenlah yang pertama berbahagia. Memang begitu padat jadwal seorang presiden. Tapi begitu besar jasa seorang presiden kepada kemajuan bangsa. Bangsa yang besar selalu memiliki pemimpin yang berjiwa pemimpin yang sangat terasah.
Jika boleh aku pesimistis, aku tak ingin menjadi presiden yang memikul begitu besar tanggung jawab. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan hak-hak rakyat yang masih banyak belum terpenuhi kepada Allah di hari pembalasan. Aku tak siap menanggungnya. Aku akui, aku belum bisa mengatur diri ku sendiri. Dan, bagaimana seorang aku yang tak siap bisa menjadi pemimpin yang baik bagi negeri yang besar ini. Terlalu banyak hal buruk yang aku bayangkan walaupun aku belum pasti menjadi presiden.
Kadang keadaan kepepet menimbulkan suatu reaksi yang luar biasa. Maksut saya, jika aku benar-benar menjadi presiden dan tak ada jalan keluar selain menjalankan amanah sebagai ‘khalifah’ semoga, kekuatan terpendam yang luar biasa itu akan terurai.
Jika aku seorang presiden.
Aku ingin melihat keadaan rakyatku lebih dekat dan merasakan sedekat-dekatnya bagaimana perasaan mereka saat itu. Apa keluhan mereka, apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka harapkan.
Telah ada hukum, aturan, dan pelaksananya(menteri, DPR dan lain-lain). Negeri ini telah lengkap dengan sumber daya alam. Namun, kemanakah kesejahteraan tersebut?
Kujadikan antek-antek pemerintah negeri ini menjadi serupa jin aladin. Dan aku hanya ingin mengetahui, entah bagaimana caranya negeri ini harus makmur.
Setiap permasalahan pasti ada solusinya. Suatu saat, jika aku menjadi presiden, aku kan berkata, ”Mari saudara-saudara setanah air Indonesia untuk berjuang bersama-sama menggapai Indonesia yang sejahtera. Kita adalah satu-kesatuan. Jika ada 1 orang yang tidak mau mengabdi untuk negeri ini, sadarkanlah! Sadarkanlah agar negeri ini tidak pincang. Mari bergerak bersama menuju Indonesia gemilang! Saudara-saudaraku. Ayo getarkan hati ini dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semoga jiwa para pejuang tetap menjaga hati kita tetap berkobar.
Indonesia mercusuar dunia!!!
Salam Indonesia.

Minggu, 18 Desember 2011

APA YANG SEBENARNYA ANDA INGINKAN???


Apakah kita benar- benar hidup? Jika kita punya impian yang kita perjuangkan, itulah menurutku kehidupan yang nyata. Tidak hanya "sekedar hidup" saja tanpa arah. Air yang mengalir tanpa arah saja tetap memiliki tujuan, yaitu laut. Mungkin banyak orang yang berprinsip jalani hidup seperti air yang mengalir. Tetapi mengapa mereka tidak memiliki pandangan kedepan seperti halnya air yang memiliki visi ke laut?

Semua bermula dari visi. Selalu mulai dengan pikiran akan mau menjadi apa nanti akhirnya (bila tak ingin jadi air yang menggenang). Sebelum kita mulai melakukan apapun, kita harus dapat menjawab pertanyaan yang paling pentingn ini.

APA YANG SEBENARNYA ANDA INGINKAN???


Ini serius. Katakan pada diri kita sendiri, apa yang paling kita inginkan?
Mengapa kita melakukan semua hal yang kita lakukan sekarang?
Mengapa kita pergi kuliah? Untuk Belajar. Ok. Lalu kita belajar untuk apa?
Untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dengan gaji yang baik. Lalu apa guna itu semua?
Supaya Anda bisa bekerja keras sampai usia 55?
 
Tentukan terlebih dahulu kita ingin menjadi apa, apa yang kita ingin lakukan dan pa yang ingin kita miliki, Setelah memutuskan apa yang sebenarnya kita inginkan, Kita dapat mulai merencanakan bagaimana caranya mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Jika boleh aku menganalogikan, ini seperti pergi liburan ke luar negeri. Kita HARUS menentukan terlebih dahulu lokasi liburan yang kita inginkan. Baru setelah itu, kita dapat menentukan bagaimana caranya kesana. Apakah dengan pesawat, dengan perahu, dengan mobil, atau hanya jala kaki?

Kebanyakan orang tidak menyadari apa yang mereka inginkan dalam kehidupan mereka (riset pertanyaan tentang cita2 kepada teman-teman sekelas). Kita ikut arus kebanyakan orang dan membuat keputusan berdasarkan reaksi, bukan proaksi. Kita memutuskan untuk memilih pergi ke sekolah mana, hanya karena memang sudah waktunya memilih sekolah. Kita memutuskan untuk memilih jurusan yang mana, hanya karena memang sudah waktunya untuk memilih jurusan. Kita memutuskan untuk memilih pekerjaan yang mana setelah lulus, hanya kita memang sudah waktunya untuk memilih pekerjaan. Tetapi, kenyataannya, kita bahkan tidak tahu untuk apa kita memilih sekolah, jurusan, dan pekerjaan itu. (Hayo,, ngaku...Semoga kita tidak termasuk. hehehe)

Banyak orang mengambil keputusan tidak berdasarkan apa yang mereka benar-benar inginkan, tetapi berdasarkan latar belakang dan keadaan mereka pada saat itu. Mereka berkata," Saya tidak tahu mau jadi apa ketika saya besar nanti, tapi karena saya sudah mengambil jurusan ilmu pasti saat sekolah, mungkin saya akan mengambil jurusan ilmu pasti juga di universitas. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan 5 tahun yang akan datang, tapi karena saya sudah belajar ilmu teknik di universitas, saya rasa saya akan mencari pekerjaan di bidang teknik." Dan seterusnya dan seterusnya.

Bagiku, hal ini seperti berkatam," Saya tidak tahu ke mana saya ingin pergi liburan nanti. Tetapi karena saya sudah punya tiket bus ini, saya rasa saya akan naik saja bus itu dan ikut kemana pun bus itu akan pergi." Iya kalau pergi ke tempat wisata. Kalau hanya mangkal di terminal seharian gimana? hahaha

Sekarang, izinkan aku bertanya kepada para calon orang sukses. :D. Dengan mengambil langkah-langkah yang tidak pasti adan tidak direncanakan seperti itu, apakah kita pikir kita akan dapat mencapai impian-impian kita, menjadi pribadi yang benar-benar kita inginkan, melakukan apa yang benar-benar kita ingin lakukan, dan memiliki apa yang benar-benar kita ingin miliki?

Ini adalah hidup kita sendiri, dan jika bukan kita yang merencanakannya dengan baik, siapa lagi?
(buat proposal hidup aja.. Baca postingan sebelumnya tentang Tuhan, inilah proposal hidupku")

Bagiku, tidak memiliki tujuan itu sama seperti daun yang jatuh hanyut di sungai. Mengikuti arus seiring berjalannya waktu, tidak menyadari bahwa sungai tersebut akan berakhir di lautan,  tempat daun tersebut akan tenggelam.

Untuk mengambil alih kontrol hidup kita dan untuk hidup sesuai impian kita, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan.

Tanyakan ini ke diri kita sendiri dan jangan pergi ke mana-mana sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut.

Selalu mulai dengan pikiran akan mau menjadi apa nanti akhirnya. Semua bermula dari visi.

Mengutip kata-katanya Bong Chandra, "See You at The TOP."

Semoga kita tetap terjaga untuk berbakti kepada negeri ini.
Salam sukses dan mulia..

LEPASKAN IMPIANMU, DAN KAU AKAN PASRAH MENERIMA NASIBMU YANG BEGITU SAJA!


Berikut sebuah cerita yang selalu mengingatkanku untuk selalu memperjuangkan impian-impianku dan berani berkata “tidak” pada kesempatan yang “salah”. Sebelum aku uraikan tentang kesempatan yang salah, simak dulu cerita berikut yang aku kutip dari buku A GIFT FROM A FRIEND by MERRY RIANA.

KISAH KONDOMINIUM (mungkin seperti apartemen)
Sepasang pengantin muda baru saja memutuskan membeli sebuah apartemen baru. Apartemen baru ini terletak di lantai 72.
Setelah mereka memberikan pembayaran tKita jadi untuk apartemen tersebut, kunci apartemen pun diserahkan kepada mereka.
Mereka sangat bersemangat. Sesudah mendapatkan kuncinya, mereka ingin pergi ke lantai 72 untuk melihat apartemen baru mereka. Yang membuat mereka lebih bersemangat lagi, kondominium itu hanya terletak di sebelah kantor pemasaran tempat mereka membayar tanda jadi.
Mereka pun cepat-cepat menuju kondominium itu dan mencari lift untuk naik ke lantai 72, tempat unit apartemen mereka.
Mereka sangat kecewa saat tahu bahwa sistem lift sedang diperbaiki. Tetapi, karena sangat antusias untuk melihat apartemen baru, mereka tidak keberatan naik lewat tangga menuju ke lantai 72. Jadi mereka pun mulai naik.
Setelah mencapai lantai 21, pasangan ini mulai merasa lelah. Karena mengetahui bahwa perjalanan mereka masih jauh, mereka memutuskan untuk meninggalkan tas mereka di lantai 21 dan melanjutkan naik tangga lagi.
Selanjutnya, mereka naik sampai lantai 45. Rasa lelah sudah sangat mereka rasakan saat itu. Mereka mulai saling menyalahkan karena memutuskan naik lewat tangga.
Mereka bahkan mulai menyalahkan satu sama lain karena memutuskan untuk membeli apartemen di lantai yang tertinggi. Tetapi, karena sudah terlanjur naik ke lantai 45, dan tinggal 27 lantai lagi, mereka memutuskan untuk terus naik.
Ketika mereka sampai di lantai 60, mereka sudah tidak saling bicara. Mereka berpikir ide naik tangga sampai lantai 72 ini adalah ide yang konyol. Mereka memutuskan untuk diam saja dan tidak berbicara mengenai hal itu lagi.
Akhirnya, mereka mencapai tujuan akhir mereka, lantai 72. Mereka sampai di depan pintu dan mereka masih bisa tersenyum lemah ketika saling berpKitangan. Sejenak mereka saling menunggu untuk mengambil kunci dan membuka pintu apartemen mereka, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka telah meninggalkan kuncinya di lantai 21 bersama tas mereka.
———
Kita semua memiliki impian ketika kita masih kecil, apakah itu menjadi dokter, guru, pilot, pengusaha, dan lain sebagainya. Tetapi, ketika kita mencapai usia 21 tahun, umumnya kita mengikuti orang kebanyakan. Kita melepaskan impian kita dan melanjutkan hidup kita sama seperti teman-teman kita yang lain. Ini sedikit menjelaskan tentang ketidak beranian untuk berkata tidak pada kesempatan yang “salah”. 
Ketika mencapai usia 45 tahun, kita mulai merasa kecewa dengan kondisi hidup kita dan mulai menyalahkan semua orang lain, kecuali diri kita sendiri. Aku belum berusia 45, dan aku tidak yakin benar bagaimana perasaan orang-orang yang berumur 45. Tapi setelah mengamati orang-orang berusia paruh baya di sekitar aku, aku menyadari bahwa kebanyakan dari mereka kecewa dengan pekerjaan mereka. Mereka kecewa dengan keadaan keuangan mereka. Di satu sisi, mereka tertekan oleh kebutuhan untuk membiayai orang tua mereka setelah mereka pensiun. Berapa pun gaji yang mereka dapat akan selalu mengalir lagi untuk membayar semua tagihan, cicilan pinjaman, biaya hidup, dan sebagainya. Jangankan liburan, mereka bahkan tidak tahu umur berapa mereka akan dapat berhenti bekerja dan pensiun.
Lalu mereka mulai menyalahkan semua orang. Mereka menyalahkan Tuhan karena membiarkan situasi buruk ini menimpa mereka. Mereka menyalahkan pemerintah karena mengenakan tarif pajak yang tinggi dan tidak menyediakan kesempatan dan peluang yang cukup bagi mereka. Mereka menyalahkan orang tua mereka karena tidak menyediakan kesempatan dan peluang yang cukup bagi mereka. Mereka menyalahkan orangtua mereka karena tidak bekerja cukup keras sehingga tidak dapat memberikan warisan yang cukup. Mereka menyalahkan anak-anak karena tidak belajar cukup giat untuk mendapatkan beasiswa yang meringankan beban keuangan mereka. Daftar keluhan ini berlanjut terus….
Ketika mencapai usia 60 tahun, mereka biasanya tidak bisa berkata banyak lagi. Aku melihat begitu banyak orang tua di umur tersebut yang tidak banyak lagi berkomunikasi dengan orang lain. Mereka hanya menjalani hidup dan menunggu waktu mereka tiba. Mungkin mereka tidak berkomunikasi banyak lagi karena mereka menyesal akan hidup mereka yang tidak mencapai apa pun atau tidak melakukan sesuatu yang berbeda ketika mereka masih muda. Aku tidak tahu. Aku hanya menduga.
Saat mencapai usia 72 tahun, ketika menyadari bahwa waktu mereka telah tiba untuk berkata selamat tinggal, mereka hanya dapat berkata demikian sambil meneteskan air mata yang mengalir di pipi. Mereka mungkin berpikir: Apa yang mungkin terjadi jika aku tidak melepaskan impian aku ketika aku masih berusia 21? Apakah kisah hidup aku akan berbeda?
Gambaran ini mungkin terlihat suram bagi kita setelah kita membaca kisah ini. Tetapi, ini bukanlah akhir perjalanan kita. Apa yang aku gambarkan di sini adalah untuk membantu agar Kita bisa melihat masa depan, kehidupan apa yang kita jalani jika kita membuang impian ketika kita masih muda.

Bagi teman-temanku yang masih kuliah, semoga kita memang kuliah untuk mewujudkan apapun cita-cita itu. Menikmati jalannya kuliah sambil membayangkan perjalanan impian semakin dekat. Bukankah menyenangkan? Bagi yang belum nyaman dengan kuliahnya (salah jurusan atau terpaksa), silahkan ambil langkah yang tepat. BERANILAH melangkah untuk impian kita. Kita yang masih muda, masih ada kesempatan untuk mengambil "kunci" impian kita yang belum terlalu jauh kita tinggalkan. 
Maaf, bagi yang sudah udzur, masih ada kesempatan juga. Tolong ingatkan para generasi muda untuk tetap menggenggam impian mereka. Dan semoga impian mu yang lalu dikabulkan di kehidpan selanjutnya. amin..
Moral kisah ini adalah jangan lepaskan impian Kita dan jangan menukarnya dengan kesempatan atau peluang yang “salah”. Kesempatan yang “salah” dapat datang secara tersamar sebagai kesempatan yang sepertinya nyaman dan kesempatan kerja yang sepertinya cocok setelah kita lulus sekolah. Tapi, jika kesempatan itu tidak membawa kita lebih dekat pada impian kita, apa gunanya?
Untuk masuk ke pintu apartemen impian, Kita akan memerlukan kuncinya. Jangan pernah menjatuhkan kunci itu. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan kunci duplikat kepada kita.


Semoga kita menjadi bisa menjadi insan yang memperjuangkan kesejahteraan negeri ini dengan menjadi pengusaha(membuka lapangan pekerjaan). Amin..
Salam bahagia dan Salam untuk hidup kita yang bahagia.

Kalau ada yang belum punya imipian, silahkan baca postingan  Apa yang Sebenarnya Anda Inginkan(referensinya juga buku a gift from a friend lho)?

Minggu, 11 Desember 2011

Ulang Tahun Menambah Komitmen?


            Setiap berulang tahun, kita mengucap doa, “Semoga sealu sehat dan panjang umur.” Panjang umur yang seperti apa? Aneh kan??
Umur harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 70 tahun. Banggakah bila umur panjang? Eits.. jangan keburu bangga hati, karena angka 70 tahun bisa jadi penyesalan bila hanya dilihat sebatas jumlah tahun yang berhasil dilalui. Bagi saya, buat mencapai usia 70 atau 80, bila angka itu hanya untuk menyenangkan hati dokter yang berhasil menarik mulur usia seseorang (kasarnya, menahan waktu kematian). Padahal kenyataannya, sang manula menjadi beban bagi orang – orang di sekitarnya; di kursi roda, sakit kencing manis berujung pada stroke, dan pikun sejak usia 60. Jangan ditanya berapa jumlah biaya ‘life maintenance’ yang dikeluarkan anak – anak dan menantunya. Sekilas memangrasanya tidak sopan jadi begitu perhitungan terhadap orang tua. Tapi sangat perih juga ketika membandingkan ongkos rawat dan biaya obat yang bisa jadi lebih mahal daripada biaya menyekolahkan tiga cucunya diabangku SMA.
             “Jangan jadikan kami beban bagi anak cucu...” Nyatanya, kakek tersebut tetap sakit-sakitan dimasa senjanya. Bayangkan itu kita sendiri, 50 tahun dari sekarang, 60 tahun dari sekarang. Uang yang dikumpulakan selama bertahun – tahun(udah kerja), bekerja keras tambah lembur, ditambah mengorbankan waktu dan tubuh, akhirnya sekadar jadi tabungan untuk masuk ICU di hari tua. Ironis. Kita mengorbankan kesehatan di hari muda demi uang. Di hari tua, Kita korbankan pula uang yang dengan susah payah dikumpulkan demi meraih kembali kesehatan Kita. Gali lobang, tutup lobang. Waktu habis terbuang percuma......
            Euforia berjalan di mal dan tebaran aneka makanan yang mengoda mata begitu mudah menggelitik saraf kecanduan. Bahkan parahnya, akal sehat bisa diajak berkompromi. Ucapan, “Ah, kan enggak sering-sering amat...kan, Cuma sebulan sekali...” akhirnya membuat otak menyerah pasrah tanpa syarat. Dengan pola makan serampangan, ditambah pola tidur (begadangan), sama saja dengan menyiksa anak-anak kita kelak ketika kita renta.
            Tambah umur, bukan selalu tambah komitmen. Jangan salah. Justru anak 7 tahun yang bercita – cita belajar naik sepeda roda dua jauh lebih berkomitmen daripada yang 47 tahun. Padahal, dua orang itu menghadapi resiko yang sama : jatuh babak belur, nabrak tiang listrik, salah gowes masuk got, atau terserempet motor malang melintang, tapi yang 7 tahun itu dalam waktu 3 hari sudah mahir naik sepeda. Sedangkan yang 47 tahun, selama 3 hari masih menimbang-nimbang untung ruginya : Kalau jatuh patah tulang gimana? Kan, enggak punya ansuransi. Kalau lengan ikut lecet, wah... nanti “cacat” terus enggak bisa pakai baju u-can-see lagi dong? hahaha
            Kadang mendidik remaja dan anak belia untuk HIDUP SEHAT jauh lebih menyenangkan. Bagi mereka, untuk bisa naik sepeda adalah goal yang begitu menantang. Resiko? Pasti ada. Goal dan resiko kan suadara kembar. Tinggal yang mana diberi ‘makan’ lebih banyak dan lebih sering setiap harinya. Dialah yang menang. Bila resiko yang menang, maka goal ketinggalan mimpi. Dan berbagai alasan muncul sebagai drama, dengan bertambahnya usia tentu. How abaout you?

SELAMAT HIDUP YA!!! :)

”Bukankah dunia ini hanyalah permainan & senda gurau?” Q.S. Al-an’am:32.
            Di zaman modern ini, makin banyak orang terutama perempuan, yang merasa takut menghadapi pertambahan usia. Kebahagian merayakan ulang tahun di masa kanak-kanak dan remaja, berganti menjadi kecemasan di saat dewasa. Bener kan??
            Ketakutan dan kecemasan terkait pertambahan usia biasanya muncul karena kecantikan yang memudar akibat penuaan, tidak mau bergantung pada orang lain, dan ngeri membayangkan kematian. Banyak juga yang membayangkan saat tua nanti akan didera berbagai penyakit berat, sehingga kualitas hidup menurun dan hidup jadi tak nyaman. Bagi yang sudah berkeluarga, masa tua menjadi menakutkan mungkin karena tidak berani membayangkan hidup sendiri tanpa pasangan atau anank-anak.
            Ketakutan dan kecemasan akan pertambahan usia menurut saya wajar, apalagi pada masyarakat yang mengagung-agungkan kemudaan (youth). Orang yang awet muda dikagumi, sedangkan yang terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya biasa dipergunjingkan. Berbagai produk yang berlabel anti-aging atau age-defying laku keras. Kerut dan uban dianggap musuh sampai harus dibasmi dengan berbagai ramuan, prosedur bedah, suntikan, hingga yang umum seperti cat rambut. Padahal, pertambahan usia beserta dengan berbagai perubahanya dalah hal yang wajar serta alamiah. Semua manusia akan bertambah tua dan pada akhirnya akan mati. Ada istilah aging gracefully, yang menurut saya sangat tepat. Pertambahan usia hendaknya dirayakan, bukan hanya dengan mebeli kue ulang tahun, mengundang teman-teman makan bersama, menyambut tengah malam menjelang pergantian usia di klub, atau membeli barang-barang mahal, melainkan juga dengan melakukan refleksi untuk menjadikan hidup ini lebih bermakna setiap detiknya.
            Ada seorang teman (mantan :D) yang menjadikan setiap ulang tahunnya sebagai awal resolusi pengembangan diri pribadi. Misalnya, membuat rencana untuk melanjutkan studi, lebih banyak beramal, organisasi sosial, atau yang sederhana seperti belajar memasak.
            Ada juga yang mereyakan ulang tahunnya seorang diri, dan membuat catatan berbagai pencapaian yang telah ia raih di satu tahun terakhir. Dua aktivitas ulang tahun yang tidak biasa, tapi sangat personal dan berarti.
            Seharusnya setiap orang bukan merayakan ulang tahun, tetapi merayakan hidup.  Karena HIDUP di sini berarti merayakan diri sendiri, orang lain, dan kehidupan sebagai perayaan yang meriah, ceria dan penuh makna, maka kebahagian akan datang bersama perayaan tersebut.
            Buat hidup menjadi lebih bervariasi dengan mencoba berbagai aktivitas baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, dan bertemu dengan orang-orang baru. Tidak ada kata terlambat. Percayalah, karena kakek saya baru bisa naik mobil setelah renta. Beranilah mecoba...
            Yang tak kalah penting dalam kehidupan kita sehari-hari adalah belajar mengenali serta mengelola stres. Salah satu hal yang paling memengaruhi kondisi kesehatan manusia baik fisik maupun mental adalah stres. Jika Anda merasa cepat lelah, mudah sakit, gampang marah, atau menangis karena hal-hal sepele, kemungkinan Anda tengah dilanda stres. Lakukan relaksasi, bicarakan dengan teman dankeluarga serta take a break dengan mengambil cuti bagi yang kerja dan liburan (mahasiswa juga boleh). Jangan lupa kenali sumber stres Anda, dan belajar untuk mengatasinya secara tuntas
            Terakhir, cobalah untuk santai dalam menjalani hidup. Membuat rencana dan to-do-list itu baik, tapi menimati hidup itu lebih penting. Seperti ungkapan John lennon yang sangat terkenal : Life is what happens when you are busy making other plans.
Nikmatilah hidupmu.. karena dalam Al-Qur’an,”Bukankah dunia ini hanyalah permainan & senda gurau?” Al-an’am:32.