Setiap berulang tahun, kita mengucap doa, “Semoga sealu sehat dan panjang umur.” Panjang umur yang seperti apa? Aneh kan??
Umur harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 70 tahun. Banggakah bila umur panjang? Eits.. jangan keburu bangga hati, karena angka 70 tahun bisa jadi penyesalan bila hanya dilihat sebatas jumlah tahun yang berhasil dilalui. Bagi saya, buat mencapai usia 70 atau 80, bila angka itu hanya untuk menyenangkan hati dokter yang berhasil menarik mulur usia seseorang (kasarnya, menahan waktu kematian). Padahal kenyataannya, sang manula menjadi beban bagi orang – orang di sekitarnya; di kursi roda, sakit kencing manis berujung pada stroke, dan pikun sejak usia 60. Jangan ditanya berapa jumlah biaya ‘life maintenance’ yang dikeluarkan anak – anak dan menantunya. Sekilas memangrasanya tidak sopan jadi begitu perhitungan terhadap orang tua. Tapi sangat perih juga ketika membandingkan ongkos rawat dan biaya obat yang bisa jadi lebih mahal daripada biaya menyekolahkan tiga cucunya diabangku SMA.
“Jangan jadikan kami beban bagi anak cucu...” Nyatanya, kakek tersebut tetap sakit-sakitan dimasa senjanya. Bayangkan itu kita sendiri, 50 tahun dari sekarang, 60 tahun dari sekarang. Uang yang dikumpulakan selama bertahun – tahun(udah kerja), bekerja keras tambah lembur, ditambah mengorbankan waktu dan tubuh, akhirnya sekadar jadi tabungan untuk masuk ICU di hari tua. Ironis. Kita mengorbankan kesehatan di hari muda demi uang. Di hari tua, Kita korbankan pula uang yang dengan susah payah dikumpulkan demi meraih kembali kesehatan Kita. Gali lobang, tutup lobang. Waktu habis terbuang percuma......
Euforia berjalan di mal dan tebaran aneka makanan yang mengoda mata begitu mudah menggelitik saraf kecanduan. Bahkan parahnya, akal sehat bisa diajak berkompromi. Ucapan, “Ah, kan enggak sering-sering amat...kan, Cuma sebulan sekali...” akhirnya membuat otak menyerah pasrah tanpa syarat. Dengan pola makan serampangan, ditambah pola tidur (begadangan), sama saja dengan menyiksa anak-anak kita kelak ketika kita renta.
Tambah umur, bukan selalu tambah komitmen. Jangan salah. Justru anak 7 tahun yang bercita – cita belajar naik sepeda roda dua jauh lebih berkomitmen daripada yang 47 tahun. Padahal, dua orang itu menghadapi resiko yang sama : jatuh babak belur, nabrak tiang listrik, salah gowes masuk got, atau terserempet motor malang melintang, tapi yang 7 tahun itu dalam waktu 3 hari sudah mahir naik sepeda. Sedangkan yang 47 tahun, selama 3 hari masih menimbang-nimbang untung ruginya : Kalau jatuh patah tulang gimana? Kan, enggak punya ansuransi. Kalau lengan ikut lecet, wah... nanti “cacat” terus enggak bisa pakai baju u-can-see lagi dong? hahaha
Kadang mendidik remaja dan anak belia untuk HIDUP SEHAT jauh lebih menyenangkan. Bagi mereka, untuk bisa naik sepeda adalah goal yang begitu menantang. Resiko? Pasti ada. Goal dan resiko kan suadara kembar. Tinggal yang mana diberi ‘makan’ lebih banyak dan lebih sering setiap harinya. Dialah yang menang. Bila resiko yang menang, maka goal ketinggalan mimpi. Dan berbagai alasan muncul sebagai drama, dengan bertambahnya usia tentu. How abaout you?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar