Menulis adalah kemerdekaan. Karena menulis itu bebas. Di negara Indonesia yang berasaskan Pancasila ini, siapapun boleh berpendapat. Tak terkecuali seorang penjual nasi goreng yang bertweet ria meramaikan pasar internet.
Seorang penjual makanan, mahasiswa, jurnalis, politikus, dan berbagai bidang lainnya, memiliki peranan yang berbeda dalam berpartisipasi di dunia tulis menulis negeri ini.
Misal seorang politikus yang menulis tentang suatu permasalahan dalam pemerintahan sering diaanggap tidak asli dan memihak dari sudut pandang partainya. Jika seorang jurnalis yang menulis, mungkin dia akan mencari kekurangan apa yang dapat dijual melalui artikel yang akan ditulisnya.
Berbeda lagi jika mahasiswa yang menulis.
Dimungkinkan, di antara sekian bidang sudut pandang mahasiswa memiliki sudut pandang netral dengan kemampuan dan ilmu yang lumayan mumpuni untuk mengkaji suatu permasalahan.
Jika mahasiswa menulis, mahasiswa bisa menjadi kontrol rezim pemerintahan yang berlangsung. Demo? Sepertinya sudah tak jamannya lagi. Menulis memberikan lebih banyak manfaat daripada demo. Selain jangkauan yang luas dan berpengaruh disegala usia(tentunya yang dapat membaca) juga efisien tenaga dan waktu.
-ganti tema- :)
Jika ada masalah, tulis saja. Baca, renungkan, mungkin akan mendatkan solusinya sendiri tanpa repot konsultasi. Pernahkah merasa galau? Hebat sekali anda mau mengakuinya. Beberapa saran dari seorang guru, tulis saja masalahmu(galau). Coba deskripsikan detail masalah yang 'menggalaukan'. Nikmati saja prosesnya. Mungkin, tak disangka-sangka perasaan galau mulai memudar. Jangan percaya kalau belum nyoba yah.. hehehe Just Try it at Home.
Ya Allah, izinkanlah kami hidup 1 hari lagi untuk berbuat yang terbaik dan bermanfaat.
Senin, 31 Oktober 2011
Menulis Populer Bersama Bapak Rudi Santoso
Jumat, 21 Oktober 2011. Hari itu, adalah hari yang cerah untuk beraktivitas. Tak seperti hari jum'at yang lain, hari itu kami mahasiswa Sistem Informasi 2011 ITS kehadiran seorang dosen STIKOM yang juga aktif dalam dunia jurnalis. Sungguh keberuntungan bagi kami yang masih dalam tahap pembelajaran untuk bertemu dengan beliau untuk membagi ilmunya dengan kami.
Sikap yang ramah dan terbuka membuat kami antusias dalam kuliah tamu tersebut.
Dalam kesempatan langka tersebut, kami mendapat banyak pencerahan tentang menulis populer melalui materi-materi presentasi beliau. Materi singkat, padat, dan jelas tersebut serasa obat bagi kegalauan kami dalam menulis. Dengan beberapa tips yang dibagikan beliau kepada kami, kami seperti mendapatkan sebuah jalan tol baru dalam perjalanan menulis kami ini.
Dari tips-tips berikut, mungkin bisa diambil sebagian atau keseluruhannya untuk dijadikan bahan refera
TIPS-TIPS menulis populer yang semoga membuat anda populer juga. amin.. :D
1.Jangan Menyiksa Pembaca
mengapabisamenyiksapembaca?jikakurangkjelasbacakalimatiniberulangulang. Ya.. agak pusing kan? berarti anda normal. Kalau anda bisa, anda sungguh LUAR BIASA. JIKA PADA KALIMAT AWAL ADALAH KALIMAT TAK BERSPASI YANG MENGGANGGU, BAGAIMANA DENGAN PERASAAN ANDA SAAT MEMBACA INI? Rasanya g enak juga kan? Seperti ada nada marah atau emosi. yah, intinya, bacalah tulisan anda dulu. jika enak nyaman dibaca, baru kasihkan ke orang lain.
2. Orientasi Pembaca
Untuk siapa kita menulis jika bukan untuk pembaca yang budiman? Untuk itu, dalam menulis kita juga harus berempati dengan cara mengetahui siapa target pembaca tulisan kita? Dengan mengetahui tersebut, paling tidak kita bisa menggunakan diksi (pilihan kata) yang tidak menyusahkan pembaca. Tulisan kita juga harus mudah dipahami. Sekali lagi, jangan menyiksa pembaca dengan cara apapun. Sadari juga, bahwa pembaca sangat beragam. Jadi, jika seorang bilang buruk tapi kebanyakan bilang baik, anggap saja yang 1 tersebut sebagai saran.
3. Hindari Istilah Asing
Tidak perlu memakai istilah yang aneh-aneh. Semakin banyak istilah aneh, namanya setilah. hehehe. Tulis saja apa adanya dengan bahasa yang enak dan mudah dipahami. Istilah asing kadang-kadang juga diperlukan. Jadi, harus melihat siapa pembacanya dulu. Yang penting, pembaca paham.
4. Hindari Jargon, Singkatan, dan Akronim
Obligasi rekap.
Lapas.
Saya yakin pembaca telah mengerti istilah-istilah tersebut. Tetapi, bukankah lebih mudah dipahami bila menggunakan istilah yang biasa saja? Dimana obligasi rekap yang berarti hutang triliunan dari rakyat dan lapas yang berarti penjara. Untuk itu, marilah mencintai menulis dengan bahsa yang sederhana saja. Lebih mudah dipahami lebih bermanfaat.
Semoga beberapa ilmu yang telah anda baca bermanfaat.
Salam sukses..
Sikap yang ramah dan terbuka membuat kami antusias dalam kuliah tamu tersebut.
Dalam kesempatan langka tersebut, kami mendapat banyak pencerahan tentang menulis populer melalui materi-materi presentasi beliau. Materi singkat, padat, dan jelas tersebut serasa obat bagi kegalauan kami dalam menulis. Dengan beberapa tips yang dibagikan beliau kepada kami, kami seperti mendapatkan sebuah jalan tol baru dalam perjalanan menulis kami ini.
Dari tips-tips berikut, mungkin bisa diambil sebagian atau keseluruhannya untuk dijadikan bahan refera
TIPS-TIPS menulis populer yang semoga membuat anda populer juga. amin.. :D
1.Jangan Menyiksa Pembaca
mengapabisamenyiksapembaca?jikakurangkjelasbacakalimatiniberulangulang. Ya.. agak pusing kan? berarti anda normal. Kalau anda bisa, anda sungguh LUAR BIASA. JIKA PADA KALIMAT AWAL ADALAH KALIMAT TAK BERSPASI YANG MENGGANGGU, BAGAIMANA DENGAN PERASAAN ANDA SAAT MEMBACA INI? Rasanya g enak juga kan? Seperti ada nada marah atau emosi. yah, intinya, bacalah tulisan anda dulu. jika enak nyaman dibaca, baru kasihkan ke orang lain.
2. Orientasi Pembaca
Untuk siapa kita menulis jika bukan untuk pembaca yang budiman? Untuk itu, dalam menulis kita juga harus berempati dengan cara mengetahui siapa target pembaca tulisan kita? Dengan mengetahui tersebut, paling tidak kita bisa menggunakan diksi (pilihan kata) yang tidak menyusahkan pembaca. Tulisan kita juga harus mudah dipahami. Sekali lagi, jangan menyiksa pembaca dengan cara apapun. Sadari juga, bahwa pembaca sangat beragam. Jadi, jika seorang bilang buruk tapi kebanyakan bilang baik, anggap saja yang 1 tersebut sebagai saran.
3. Hindari Istilah Asing
Tidak perlu memakai istilah yang aneh-aneh. Semakin banyak istilah aneh, namanya setilah. hehehe. Tulis saja apa adanya dengan bahasa yang enak dan mudah dipahami. Istilah asing kadang-kadang juga diperlukan. Jadi, harus melihat siapa pembacanya dulu. Yang penting, pembaca paham.
4. Hindari Jargon, Singkatan, dan Akronim
Obligasi rekap.
Lapas.
Saya yakin pembaca telah mengerti istilah-istilah tersebut. Tetapi, bukankah lebih mudah dipahami bila menggunakan istilah yang biasa saja? Dimana obligasi rekap yang berarti hutang triliunan dari rakyat dan lapas yang berarti penjara. Untuk itu, marilah mencintai menulis dengan bahsa yang sederhana saja. Lebih mudah dipahami lebih bermanfaat.
Semoga beberapa ilmu yang telah anda baca bermanfaat.
Salam sukses..
Minggu, 30 Oktober 2011
ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)
Produced by : Zairin Zain
Written by : Musfar Yasin
Starring : Reza Rahadian, Tika Bravani, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo,Tio Pakusadewo, Jaja Mihardja, Asrul Dahlan, Rinna Hasyim, Teuku Edwin, Sonia, Robby Tumewu, Sakurta Ginting, Boy, Angga
Music by : Ian Antono
Cinematography : Yudi Datau
Editing by : Tito Kurnianto, Enjah, Hanif Ridlo
Studio : CitraSinema
Runningtime : 100 minutes
Country : Indonesia
Language : Indonesian
Selalu ada yang menarik di dalam Deddy Mizwar. Deddy Mizwar yang menjadi sutradara sekaligus pemeran dalam film "Alangkah Lucunya (negeri ini)" menyajikan suatu fenomena permasalahan klasik rakyat Indonesia khususnya anak-anak jalanan dengan sangat 'mengena' hati. Film yang awalnya aku duga seperti film-film Indonesia lain yang hanya begitu-begitu saja malahan menjadi suatu lecutan diri untuk sadar akan dunia yang berbeda.
Film ini diawali dari perjalanan seorang Muluk (Reza Rahardian) yang bergelar S1 Manajemen mencari pekerjaan dengan berbekal iklan koran. Pencarian yang tak kunjung membuahkan hasil, mengenalkan Muluk pada Komet (Angga) si pencopet. Saat itu, Komet ketahuan sedang mencopet di pasar dan oleh Muluk dikejar dan terjadi beberapa dialog yang menggelitik jiwa. Oleh Muluk ditanya, "Mengapa mencopet? Kalau butuh kan tinggal minta." yang dijawab se khasnya seorang anak polos "Saya kan pencopet, bukan peminta-minta." Mendengar hal itu, Muluk seperti tersengat hatinya dan melepaskan si Komet.
Masih dalam pencarian pekerjaan, pada saat Muluk makan, ia bertemu si Komet lagi. Setelahnya, Komet mengajaknya ke "kantor copet" dan mengenalkannya kepada Jarot (Tio Pakusadewo) sang bos copet. Perkenalan tersebut membuahkan perjanjian kerjasama antara aliansi copet dan Muluk. Muluk mengolah uang hasil copet dan sebagai imbalannya memperoleh 10 darinya.
Ketika mulai beraktifitas, timbullah pertanyaan dari Makbul (Deddy Mizwar) ayah Muluk, "Sibuk sekali kau, sudah dapat kerjaan?" Muluk mengaku dia bekerja di perusahaan bagian pengembangan Sumber Daya Manusia. Sungguh jawaban yang menggelitik.
Untuk mencapai cita-cita Muluk yaitu mengangkat martabat pencopet menjadi pedagang asongan yang berpendidikan, dia meminta bantuan temannya Syamsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Tika Bravani).
Awal Syamsul mengajar, dia kesulitan memberikan alasan mengapa harus pencopet harus naik tingkat dan berpendidikan. Alhasil, dia pun memberikan contoh Koruptor yang bisa dikatakan sebagai pencopet profesional dan hidup bergelimpang harta. "Aku mau bang jadi Koruptor." dengan ringan mereka berseloroh dan mulai bersemangat untuk belajar. Di lain sisi, Pipit mengajar tentang agama islam. Dalam filmnya, mereka benar-benar tak pernah disentuh oleh pendidikan maupun agama.
Konflik mulai memuncak ketika Pak Makbul (ayah Muluk), Haji Sarbini (calon mertua Muluk), dan Haji Rahmat(ayah Pipit) bersikeras melihat tempat kerja Muluk. Mereka sungguh terkejut melihat anak-anak mereka ternyata bekerja dengan pencopet. Dan yang lebih menyakitkan hati para orangtua adalah saat mereka menyadari bahwa makanan yang selama inimereka makan berasal dari uang hasil copet.
Pertentangan batin yang hebat para ketiga tokoh tersebut menyebabkan ketiganya berhenti mengajar anak-anak tersebut. Sungguh pilihan yang amat berat, dimana mengajar anak-anak pencopet itu agar dapat mandiri namun memperoleh uang haram, atau meninggalkan mereka tanpa berbuat apa-apa lagi.
Berhasilkah mereka mengubah masa depan anak-anak pencopet?
Ayo kita tonton saja filmnya. :D
Kegalauan vs Ketabahan pada Startup Weekend Surabaya 2011
Sudah tahu kan acara besar semacam apa itu? Jika belum, baca postingan sebelumnya dulu. okey .. :D Berikut cerita batin yang kualami semasa mengikuti acara tersebut. Ada senang, sedih, galau, excited(tertarik), kagum, apapun deh.
Berawal dari berita group WE&T ITS tentang Startup Weekend Surabaya 2011 aku yang berstatus sebagai mahasiswa baru Sistem Informasi ITS merasa tertarik dengan acara besar tersebut. Tetapi, halanga pertama pun menghadang. Rp 500.000,00 untuk daftar! Sebagai anak kos-kosan yag harus mengirit, jumlah tersebut kurang lebih sama dengan jatah makan ku 1 bulan. Apa aku harus menukarnya dengan acara 3 hari yang aku tidak tahu rincian jelasnya bagaimana kah dampaknya terhadap hidupku.
Kegagalan yang goblok adalah saat tidak mau mencoba dan hanya resah. Dan aku berkata pada diriku, "Goblok kamu jika tidak berani mengambil resiko. Kamu mau gagal sebelum melakukannya hah? Pecundang kamu kalau tidak berani memulai sesuatu yang baru, yang mungkin membawa perubahan yang baik dihidupmu. Jadilah PEMENANG! yang mengambil manfaat dalam setiap kegagalan. Toh kalau kamu ikut juga belum tentu gagal."
Tak banyak pikir, kuhubungi temanku si "I" yang calon pengusaha juga seperti aku. Amin. Amin. Amin. Tau kan? Pastinya aku hutang! Karena uangku hanya tersisa Rp 50.000,00 untuk 1 minggu kedepan. Sebelumnya, si "I" juga tertarik untuk ikut. Tapi hari itu dia juga mengikuti seminar tentang kebebasan finansial. Jadi, aku mendaftar sendiri dengan sedikit nekat hutang! hehehe
Hari jum'at tgl 21 Oktober 2011, adalah hari pertama acara tersebut. Acara diselenggarakan di Universitas Ciputra di Surabaya. Dimana itu? Karena aku anak desa dari pelosok kota Pati Jawa Tengah, aku pun hanya bisa googling. Yah, kemanapun tempat yang aku tuju, aku googling dulu arah-arahnya. Berbekal sedikit tulisan alamat, aku berangkat dari kos. Setelah berlama-lama bingung, kesasar, dan gak jelas akhirnya sampai tujuan deh.
Sepi.... Lho, mana partisipan lainnya? Kecewa sedikit deh. Ternyata partisipannya banyak yang tidak tepat waktu dan tidak terlalu ramai seperti bayanganku.
Idea Pitching. Pemaparan Ide-ide kreatif. Dan aku memiliki ide membuat aplikasi peta mall dalam 3D. Tapi, akhirnya aku menjadi tim sukses tukarwaktu.com yang anggotanya notabene anak-anal Universitas Ciputra. Yah, sedikit minder deh. Setelah diskusi tentang ide, aku ditunjuk menjadi developer web untuk hal tersebut. Lho, aku kan baru semester 1 dan gak tahu apa-apa. Dan perasaan itulah yang menekanku sampai hari kedua dimana aku berterus-terang berkata kepada timku bahwa aku tidak bisa apa-apa. Perasaan bersalah mulai muncul karena keinginan berkontribusi yang tidak tersalurkan dan merasa tidak mampu melakukan apa-apa.
Kata Pak Jupri yang seorang dosen ITS dan juga pengusaha, "Berprestasi dulu baru Sukses." Disanalah aku sedikit mengerti arti kata-kata tersebut. Tanpa ilmu, aku merasa menjadi sapi dungu ditengah para petani. Begitu tak berdaya.
Hari ke-3. Aku hanya ikut 'mengalir' dalam perjuangan teman-teman tim ku. Hari itu adalah penentuan layak tidaknya suatu ide melalui pemaparan prototipe ide tersebut kepada beberapa juri yang beberapa juga akan menjadi investor untuk mengembangkan ide tersebut.
Kemenangan beralih ke tim lain yang lebih siap menjadi pemenang pada saat itu. Tapi, aku telah belajar banyak. Sebanyak apapun aku kalah, itu hanya secuil bagian dari diriku. Aku lebih besar dari masalah tersebut. Timku juga berpikiran seperti itu. Selalu ada pembelajaran dalam suatu kekalahan.
"Alasan mengapa aku tahu begitu banyak adalah karena aku telah melakukan begitu banyak kesalahan," kata Buckminster Fuller, penerima 46 gelar Doktor kehormatan.
Salam Sukses.
Berawal dari berita group WE&T ITS tentang Startup Weekend Surabaya 2011 aku yang berstatus sebagai mahasiswa baru Sistem Informasi ITS merasa tertarik dengan acara besar tersebut. Tetapi, halanga pertama pun menghadang. Rp 500.000,00 untuk daftar! Sebagai anak kos-kosan yag harus mengirit, jumlah tersebut kurang lebih sama dengan jatah makan ku 1 bulan. Apa aku harus menukarnya dengan acara 3 hari yang aku tidak tahu rincian jelasnya bagaimana kah dampaknya terhadap hidupku.
Kegagalan yang goblok adalah saat tidak mau mencoba dan hanya resah. Dan aku berkata pada diriku, "Goblok kamu jika tidak berani mengambil resiko. Kamu mau gagal sebelum melakukannya hah? Pecundang kamu kalau tidak berani memulai sesuatu yang baru, yang mungkin membawa perubahan yang baik dihidupmu. Jadilah PEMENANG! yang mengambil manfaat dalam setiap kegagalan. Toh kalau kamu ikut juga belum tentu gagal."
Tak banyak pikir, kuhubungi temanku si "I" yang calon pengusaha juga seperti aku. Amin. Amin. Amin. Tau kan? Pastinya aku hutang! Karena uangku hanya tersisa Rp 50.000,00 untuk 1 minggu kedepan. Sebelumnya, si "I" juga tertarik untuk ikut. Tapi hari itu dia juga mengikuti seminar tentang kebebasan finansial. Jadi, aku mendaftar sendiri dengan sedikit nekat hutang! hehehe
Hari jum'at tgl 21 Oktober 2011, adalah hari pertama acara tersebut. Acara diselenggarakan di Universitas Ciputra di Surabaya. Dimana itu? Karena aku anak desa dari pelosok kota Pati Jawa Tengah, aku pun hanya bisa googling. Yah, kemanapun tempat yang aku tuju, aku googling dulu arah-arahnya. Berbekal sedikit tulisan alamat, aku berangkat dari kos. Setelah berlama-lama bingung, kesasar, dan gak jelas akhirnya sampai tujuan deh.
Sepi.... Lho, mana partisipan lainnya? Kecewa sedikit deh. Ternyata partisipannya banyak yang tidak tepat waktu dan tidak terlalu ramai seperti bayanganku.
Idea Pitching. Pemaparan Ide-ide kreatif. Dan aku memiliki ide membuat aplikasi peta mall dalam 3D. Tapi, akhirnya aku menjadi tim sukses tukarwaktu.com yang anggotanya notabene anak-anal Universitas Ciputra. Yah, sedikit minder deh. Setelah diskusi tentang ide, aku ditunjuk menjadi developer web untuk hal tersebut. Lho, aku kan baru semester 1 dan gak tahu apa-apa. Dan perasaan itulah yang menekanku sampai hari kedua dimana aku berterus-terang berkata kepada timku bahwa aku tidak bisa apa-apa. Perasaan bersalah mulai muncul karena keinginan berkontribusi yang tidak tersalurkan dan merasa tidak mampu melakukan apa-apa.
Kata Pak Jupri yang seorang dosen ITS dan juga pengusaha, "Berprestasi dulu baru Sukses." Disanalah aku sedikit mengerti arti kata-kata tersebut. Tanpa ilmu, aku merasa menjadi sapi dungu ditengah para petani. Begitu tak berdaya.
Hari ke-3. Aku hanya ikut 'mengalir' dalam perjuangan teman-teman tim ku. Hari itu adalah penentuan layak tidaknya suatu ide melalui pemaparan prototipe ide tersebut kepada beberapa juri yang beberapa juga akan menjadi investor untuk mengembangkan ide tersebut.
Kemenangan beralih ke tim lain yang lebih siap menjadi pemenang pada saat itu. Tapi, aku telah belajar banyak. Sebanyak apapun aku kalah, itu hanya secuil bagian dari diriku. Aku lebih besar dari masalah tersebut. Timku juga berpikiran seperti itu. Selalu ada pembelajaran dalam suatu kekalahan.
"Alasan mengapa aku tahu begitu banyak adalah karena aku telah melakukan begitu banyak kesalahan," kata Buckminster Fuller, penerima 46 gelar Doktor kehormatan.
Salam Sukses.
Senin, 24 Oktober 2011
Startup Weekend Surabaya 2011
"Startup Weekend is a global network of passionate leaders and entrepreneurs on a mission to inspire, educate, and empower individuals, teams and communities. Come share ideas, form teams, and launch startups." kata: http://startupweekend.org/ :D. Mudahnya, acara ini diadakan untuk menumbuhkan dan memfasilitasi wirausahawan di seluruh dunia termasuk Indonesia.
lokal startup jakarta dan surabaya
Startup Weekend Surabaya 2011 yang diadakan tgl 21-23 Oktober kemarin adalah acara kedua yang diselenggarakan di Indonesia setelah di Jakarta pada bulan Mei lalu. Walaupun baru masuk Indonesia, sungguh besar apresiasi masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi di dalam bidang ini yang dibuktikan dengan banyaknya peserta dan kualitas ide yang dipaparkan.
Startup Weekend sendiri adalah ajang bagi para developer, designer, marketer, product manager, beserta orang-orang yang memiliki talenta di berbagai bidang dan antusiasme berwirausaha, untuk berkumpul bersama, bertukar pikiran dan ide, membentuk tim, membangun produk dan meluncurkan Startup (usaha rintisan) baru selama akhir pekan dengan panduan konsep dari Startup Weekend NPO -Kauffman Foundation USA dan praktisi ahli dari Indonesia. Startup Weekend Indonesia termasuk dalam rangkaian Global Entrepreneurship Week Indonesia 2011.
Fasilitator acara ini adalah Nico Budianto, pendiri Indonesia Technopreneur Community. Sedangkan para mentor dan jurinya adalah Andi S. Boediman – partner Ideosource (venture capital untuk Digital Media startup) & pendiri IDS, Edward Ismawan Chamdani – partner Ideosource. Rian Kurniawan – Owner Oketoys & Finalist GEPI e-Del 2011, Greg Chen – CEO Outsource Indonesia & 40 Below 40 Fortune Magazine 2010, Budi Dewobroto – Partner Indotechnopreneur, dan Fadjar Hutomo – Sarana Jatim Ventura.
Seru sekali kan dikelilingi orang-orang sukses! Dan mereka mau lho menginvestasikan dana kepada kita yang lolos menjadi finalis Startup Weekend tersebut. Langsung masuk ke masalahnya aja ya.. ehm, bukan masalah, tapi inti acaranya yaitu, Startup your project. lets go..
Setelah melalui penentuan ide dan pengolahan ide, jadilah kelima finalis yang memiliki project: Paper Save, KonselorKarir.com, Akzara, TukarWaktu.com dan juga Virtual Private Server. Kelima finalis pun mencoba meyakinkan para dewan juri dari Sarana Jatim Ventura, Ideosource dan Outsource Indonesia untuk mau menanamkan modal di perusahaan startup yang sedang mereka jalankan.
Setelah kelima perusahaan startup tadi mempresentasikan ide bisnisnya, terpilihlah Akzara sebagai pemenang. Perusahaan developer game iPad khusus balita yang mempunyai suatu sistem reporting khusus orang tua ini dinilai oleh dewan juri sebagai perusahaan yang paling layak mendapat apresiasi dan investasi.
Agendanya seperti ini:
Jumat, 20 Mei 2011 (15.00 – 21.00 WIB)
Ideas Pitching : Paparan ide terbaik dari peserta agar menginspirasi peserta lain untuk bergabung menjadi timnya
Sabtu, 21 Mei 2011 (09.00 – 21.00 WIB)
Grouping : Fokus tim pada customer development, validating ideas, praktek LEAN Startup Methodologies, building a minimal viable product
Minggu, 22 Mei 2011 (10.00 – 17.00 WIB)
Launch Startup : Demo prototype, valuable feedback dari panel, fasilitator dan experts.
Penutupan : Acara ditutup dengan launching startup dari peserta
Jadi, dalam 3 hari, kita dituntut membuat suatu proyek baru yang langsung dapat dikembangkan dan dijalankan dengan beberapa anggota tim saja. Menarik dan menantang kan?
Begitulah sedikit ulasan tentang Startup Weekend Surabaya yang berintegrasi pada Sartup Weekend seluruh dunia.
Salam Berkarya.
Salam Wirausaha.
Selasa, 18 Oktober 2011
Take Action in Taman Bungkul
Pagi itu kami berkumpul di scc jam 7. Kami bersiap-siap menuju ke Taman Bungkul untuk berjuang melatih intuisi kami terhadap pasar(wirausaha) di Taman Bungkul dengan berjualan. Berjualan apapun, dan uniknya, kami hanya dibekali uang Rp 20,000 untuk memulai usaha selama 2 jam untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Pagi yang menantang itu pun datang memberikan semangat berjualan. Sebelum sampai ditempat jualan kami menemui beberapa kendala, seperti transport yang memang keberangkatan kami hanya bermodal tekad. Semangat mencari tumpangan dan helm pun mengawali hari itu. Dengan kekuatan tekad, akhirnya kami tiba di Kabun Binatang Surabaya. Lho? Karena hari itu ada car free day di jln. Darmo.
Setelah persiapan (mengumpulkan tas dan dompet) di masjid Al Falah kami langsung menuju ke lokasi Taman Bungkul. Yeah... gak terlalu ramai, karena kami tiba disana hampir jam 9.00 (terkendala transport) yang seharusnya jam 8.00.
Berkeliling mengitari taman bungkul untuk pertama kali (kelompoku orang desa semua..) untuk mencari barang dagangan mana yang akan kami jual kembali. Dan akhirnya kami membeli arum manis 5 biji yang harga awalnya adalah Rp. 15.000,00 kami dapatkan hanya Rp. 11.000,00. Kering tenggorokan kami, kami membeli 5 buah aqua gelas seharaga Rp. 500,00 untuk kami jual dengan harga paket Rp. 3000 untuk 1 arum manis dan 1 buah aqua. Jika kami berhasil menjualnya semua kami hanya mendapat untung Rp. 1.500,00.
Dengan sedikit ragu, malu dan takut, kami mulai menjual barang dagangan kami mengitari Taman Bungkul. "Dek, mau arum manis? Enak lho... Dapat aqua juga." Begitulah salah satu dialog kami dengan orang-orang yang sedang menikmati kelengangan di sana. Mungkin 1 banding 7 untuk perbandingan penawaran dan barang yang dibeli. Tidak terlalu mudah.
Setelah dagangan laris, yang hanya memberikan keuntungan sedikit, kami mulai menggunakan strategi jualan yang berbeda. Kali ini kami tidak membeli barang terlebih dahulu, tetapi kami berpartner dengan pedagang asongan. Kami bernegosiasi untuk membagi keuntungan dari apa yang kami jual. Dan kami pun membantu jualan Aqua, mizone dan telur puyuh. Lumayan untuk menambah keuntungan.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.00. Ajang jualan selesai. Kami membuat laporan keuangan dan istirahat sejenak sambil makan minum. Pengumuman keuntungan jualan. Keuntungan terkecil adalah kelompok yang menjual nasi pecel dengan Rp 1.000,00. Maklum, karena hari sudah mulai beranjak siang dan kebanyakan pengunjung telah sarapan. Dan yang mencengangkan, kelompok dengan penjualan terfantastis yaitu dengan meraih keuntungan sebesar Rp 62.000,00. Usut punya usut, mereka memakai taktik yang jitu. Setiap dari mereka berjualan dengan barang berbeda dan di tempat yang berbeda, seperti Kebun Binatang dan di Traffic light. Sangat inspiratif.
Hari itupun menyisakan kenangan pahit manis berjualan, ditolak, dan lain-lain. Dan dari situ, terpetiklah banyak pelajaran yang sangat berharga.
Pagi yang menantang itu pun datang memberikan semangat berjualan. Sebelum sampai ditempat jualan kami menemui beberapa kendala, seperti transport yang memang keberangkatan kami hanya bermodal tekad. Semangat mencari tumpangan dan helm pun mengawali hari itu. Dengan kekuatan tekad, akhirnya kami tiba di Kabun Binatang Surabaya. Lho? Karena hari itu ada car free day di jln. Darmo.
Setelah persiapan (mengumpulkan tas dan dompet) di masjid Al Falah kami langsung menuju ke lokasi Taman Bungkul. Yeah... gak terlalu ramai, karena kami tiba disana hampir jam 9.00 (terkendala transport) yang seharusnya jam 8.00.
Berkeliling mengitari taman bungkul untuk pertama kali (kelompoku orang desa semua..) untuk mencari barang dagangan mana yang akan kami jual kembali. Dan akhirnya kami membeli arum manis 5 biji yang harga awalnya adalah Rp. 15.000,00 kami dapatkan hanya Rp. 11.000,00. Kering tenggorokan kami, kami membeli 5 buah aqua gelas seharaga Rp. 500,00 untuk kami jual dengan harga paket Rp. 3000 untuk 1 arum manis dan 1 buah aqua. Jika kami berhasil menjualnya semua kami hanya mendapat untung Rp. 1.500,00.
Dengan sedikit ragu, malu dan takut, kami mulai menjual barang dagangan kami mengitari Taman Bungkul. "Dek, mau arum manis? Enak lho... Dapat aqua juga." Begitulah salah satu dialog kami dengan orang-orang yang sedang menikmati kelengangan di sana. Mungkin 1 banding 7 untuk perbandingan penawaran dan barang yang dibeli. Tidak terlalu mudah.
Setelah dagangan laris, yang hanya memberikan keuntungan sedikit, kami mulai menggunakan strategi jualan yang berbeda. Kali ini kami tidak membeli barang terlebih dahulu, tetapi kami berpartner dengan pedagang asongan. Kami bernegosiasi untuk membagi keuntungan dari apa yang kami jual. Dan kami pun membantu jualan Aqua, mizone dan telur puyuh. Lumayan untuk menambah keuntungan.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 11.00. Ajang jualan selesai. Kami membuat laporan keuangan dan istirahat sejenak sambil makan minum. Pengumuman keuntungan jualan. Keuntungan terkecil adalah kelompok yang menjual nasi pecel dengan Rp 1.000,00. Maklum, karena hari sudah mulai beranjak siang dan kebanyakan pengunjung telah sarapan. Dan yang mencengangkan, kelompok dengan penjualan terfantastis yaitu dengan meraih keuntungan sebesar Rp 62.000,00. Usut punya usut, mereka memakai taktik yang jitu. Setiap dari mereka berjualan dengan barang berbeda dan di tempat yang berbeda, seperti Kebun Binatang dan di Traffic light. Sangat inspiratif.
Hari itupun menyisakan kenangan pahit manis berjualan, ditolak, dan lain-lain. Dan dari situ, terpetiklah banyak pelajaran yang sangat berharga.
Jumat, 14 Oktober 2011
Blog = Menulis = Memberi?
Menulis adalah aktivitas menorehkan sebuah catatan dari sebuah ingatan atau fenomena yang terjadi disekitar kita maupun di dalam pikiran kita. Apapun bisa kita tulis. Menulis juga menjadi salah satu dari bentuk mengabadikan momen-momen beharga kita.
Kegiatan menulis sebenarnya banyak sekali manfaatnya. Dengan menulis kita bisa berbagi atau mewariskan pengalaman kita kepada semua orang untuk diambil manfaatnya. Jika membaca bisa diartikan mengambil, maka menulis juga bisa diartikan memberi. Sedekah yang mudah kan.
Banyak orang Indonesia yang tidak suka menulis. Mungkin budaya orang Indonesia yang lebih suka berbicara daripada menulis yang mempengaruhi pola tulisan Indonesia. Jarang kita menghargai ilmu yang mungkin didapat seorang penulis selama beberapa bulan atau bahkan tahun ini. Buku yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan ilmu yang baru dengan harga relatif murah pun kita berat untuk membelinya. Padahal jika kita menilik ke mall, mungkin sebagian wanita dan ibu-ibu mudah sekali membelanjakan uangnya untuk pakaian dan hal-hal lain. Sungguh terjadi ketimpangan yang perlu dibenarkan.
Jangan lah hanya meminta bangsa ini maju jika kita sendiri tidak mau memulai sesuatu yang membuat bangsa ini maju. Tidak ada salahnya bila kita yang memulai membenahi bangsa ini dengan mulai memberikan sumbang pikiran kita melalui tulisan-tulisan. Seyogyanya, menulis yang bagus adalah yang memberika manfaat bagi orang lain. Dan agar orang lain dapat merasakan manfaatnya, tulisan yang telah menjadi artikel sebaiknya dipublikasikan. Blog adalah salah satu medianya. Murah, mudah, dan efisien.
Perasaan yang berat dan rasa tidak bisa adalah musuh no.1 untuk melakukan sesuatu yang baru. Sering kita mengatakan dalam hati kecil kita, rasanya sulit untuk melakukan hal itu, padahal nyatanya kita belum pernah mencobanya. Karena menulis juga merupakan ketrampilan praktis, kunci suksesnya adalah hanya MENCOBA, MENCOBA LAGI, dan MENCOBA LAGI dan LAGI. Seperti halnya anak kecil yang berlatih naik sepeda. Mereka tidak membaca buku manual. Toh akhirnya juga bisa. Mungkin satu hari dalam latihan pertama, mereka bisa jatuh sampai belasan atau puluhan kali. Anak-anak kecil tersebut tidak pernah menyerah. Mereka melakukannya dengan rasa ingin tahu dan dengan senang hati. Pecundangkah kita yang telah dewasa ini bila kita kalah dengan semangat anak-anak kecil?
Tulisan kita adalah bentuk perhatian yang bisa terwujud menjadi kasih sayang kita terhadap saudara-saudara kita. Kapan lagi kita akan berbuat kebaikan selain sekarang?
Tak perlu khawatir, saya juga seorang yang asing dalam hal ini. Kita tidak sendirian. Jadi, kalau ada tulisan yang kurang berkenan maaf ya. Saya masih belajar. Dan mari kita belajar bersama.
Salam Indonesia...
Langganan:
Komentar (Atom)




