Ya Allah, izinkanlah kami hidup 1 hari lagi untuk berbuat yang terbaik dan bermanfaat.
Senin, 19 Desember 2011
Mau Sukses? Sekaranglah Saatnya!
Kemarin (19/12) di hotel Fortune Surabaya penuh dengan peserta seminar Entrepreneur University yang dimotori oleh Purdi E. Chandra, pendiri Primagama yang terkenal dengan taglinenya" Cara Gila Jadi Pengusaha." Seminar yang dimulai pukul 19.30 itu dibawakan oleh Fauzan T. Hananto, seorang alumni ITS jurusan DKV. Dengan segudang prestasi dalam hal bisnis maupun tidak, dia menjadi mentor bisnis malam itu.
Fauzan T. Hananto adalah seorang pengusaha muda yang core bisnisnya adalah Plan net desain yang berdomisili di Rungkut surabaya. Begitu banyaknya perusahaan negeri dan mancanegara yang menjadi kliennya. Proyek terakhirnya senilai 22 M yang digelontorkan oleh pelanggannya Unilever.
Materi yang dibawakan oleh Mas Fauzan berkisar antara narsis berbisnis, perubahan paradigma bisnis, dan tak ketinggalan motivasi untuk bisnis yang luar biasa menginspirasi.
"Bisnis itu perlu narsis." Walaupun kadang kita belum punya bisnis, kita bisa bilang kepada teman-teman dan masyarakat sekitar bahwa kita sedang berbisnis. Adapun jika kita mendapat order, kita harus bilang,"BISA." Kemudian kita cari orang yang bisa melakukannya untuk kita. sesimple itu lah bisnis. Istilah kerennya kita itu trader. Menyambungkan produsen dan konsumen.
"1,2 M adalah harga belajarku untuk menjadi pengusaha seperti sekarang." Dari ditipu orang, karyawan, relasi bisnis, proyek gagal, dan ketidaksiapan sistem muncullah akumulasi nilai belajar minimal 1,2 M. Banyakkah? Dia bilang, "Kesuksesanku memiliki harga lebih dari itu."
Dulu, setiap ada kesempatan, dia langsung mengiyakan apapun kesempatan itu. Maka jadilah dia memiliki bisnis dari A-Z pada waktu yang bersamaan. Dalam pembelajaran tersebut, bisnisnya bangkrut dari sedikit demi sedikit sampai tinggal core bisnisnya PlanNet Desain. Dari situ ia belajar, bisnis boleh banyak dan boleh membuka bisnis baru asalkan kita telah membuat sistem bisnis yang stabil terlebiih dahulu. Tanpa sistem, perlahan bisnis-bisnis tersebut dapat dipastikan akan hilang satu demi satu.
Untuk penutup malam itu, kita diputarkan beberapa video yang sangat memotivasi. Film yang berkisah tentang perjuangan untuk pantang menyerah dalam meraih impian. Jika mereka bisa, tentunya kita juga bisa teman.
Untuk videonya, kita bahas di post selanjutnya.. oke.. :D
Semangat pagi.
Salam sukses dan mulia.
Semoga Allah selalu menyertaimu dalam setiap langkah kita.
Let's go to succes..
Aku Kelinci yang konsisten!
Pernah dengar cerita tentang dongeng Kelinci dan Kura-kura bukan? Aku yakin semua orang pernah mendengar dongeng masa kecil ini.
Ini adalah kisah perlombaan antara kelinci dan kura-kura. Kelinci, karena merasa puas telah meinggalkan kura-kura jauh dibelakang dalam waktu yang singkat begitu perlombaan dimulai, akhirnya memutuskan untuk tidur siang sebentar. Kelinci itu berpikir bahwa kura-kura tidak akan memiliki kesempatan untuk menang karena kelinci akan lari lagi setelah bangun dari tidurnya. Kelinci tersebut sangat yakin akan dapat mengalahkan si kura-kura. Sementara itu, kura-kura secara perlahan dan terus-menerus melewati kelinci yang masih beristirahat. Langkah demi langkah, merangkak perlahan, kura-kura pun mendekati garis akhir. Ketika kelinci terbangun, kura-kura sudah berada jauh di depan, mendekati garis akhir. Kelinci berniat berlari secepat mungkin. Tetapi, sudah terlambat. Kura-kura akhirnya memenangkan perlombaan. To be continued(new version)
Moral dari cerita ini adalah “perlahan dan terus-menerus” akan dapat memenangkan perlombaan.
Cerita ini dikisahkan oleh guru-guru di seluruh dunia kepada setiap anak yang memasuki sekolah taman kanak-kanak. Perlahan dan terus-menerus akan memenangkan perolombaan. Kita tidak harus cepat karena selama kita bekerja terus-menerus, pada akhirnya kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan sebagai anak kecil kita setuju.
Sekarang, pertanyaannya adalah: Apa yang akan terjadi dalam cerita ini jika kelinci tersebut tidak berhenti untuk beristirahat? Apa yang akan terjadi jika kelinci berlari secepatnya dari awal perlombaan sampai mencapai garis akhir? Dapatkah kura-kura mengejarnya?
Nah, meskipun aku diajari oleh guru sekolah taman kanak-kanak bahwa menjadi kura-kura adalah baik, aku tetap memilih menjadi kelinci. Aku memilih menjadi kelinci yang selalu berlari secepat mungkin dan tidak beristirahat sebelum mendapatkan apa yang saya inginkan. Tidak ada kura-kura mana pun, yang giat dan rajin, daoat mengejarku.
Memang benar bahwa perlahan dan terus-menerus akan menyelesaikan perlombaan. Tetapi, juga benar bahwa “cepat dan konsisten” akan menag lebih dahulu.
Oleh karena itu, sementara orang lain diberitahu untuk menjadi kura-kura yang giat bekerja dan rajin, kita dapat memilih menjadi kelinci yang berlari cepat dan berhenti hanya kerika sudah mencapai apa yang kita inginkan.
Kita akan menang. Insyaallah dijamin.
Is She Miss PERFECT??? (Not Related)
“Tak ada seorang yang jelek. Tetapi hanyalah ada seorang yang terurus dan tidak terurus.”
Jumat, 16 Desember 2011 di kelas TC 103-104 Sistem Informasi ITS diadakan kuliah bersama mengenai Image and Character Building. Kata-kata khas itulah yang sedikit menggelitik hati ini untuk berkomentar.
Memang sulit untuk mempercayai kalimat tersebut pada awalnya. Namun, seiring penjelasan miss agatha yang mengisi jam kuliah tamu di jurusan Sistem Informasi kami, kami seakan dituntun untuk sedikit demi sedikit mempercayainya. Bagaimana tidak? Awalnya kami diperlihatkan beberapa sosok manusia yang pada awalnya bisa dikatakan biasa saja, setelah di make over dengan make up, potongan rambut, aksesoris dan hal-hal lain, beberapa sosok tersebut malahan memnbuat mata kami takjub. Betapa luar biasa perubahan mereka.
Jumat, 16 Desember 2011 di kelas TC 103-104 Sistem Informasi ITS diadakan kuliah bersama mengenai Image and Character Building. Kata-kata khas itulah yang sedikit menggelitik hati ini untuk berkomentar.
Memang sulit untuk mempercayai kalimat tersebut pada awalnya. Namun, seiring penjelasan miss agatha yang mengisi jam kuliah tamu di jurusan Sistem Informasi kami, kami seakan dituntun untuk sedikit demi sedikit mempercayainya. Bagaimana tidak? Awalnya kami diperlihatkan beberapa sosok manusia yang pada awalnya bisa dikatakan biasa saja, setelah di make over dengan make up, potongan rambut, aksesoris dan hal-hal lain, beberapa sosok tersebut malahan memnbuat mata kami takjub. Betapa luar biasa perubahan mereka.
Mungkin kadang kita merasa tidak nyaman dengan penampilan kita sendiri. Dan hal ini mungkin sering membuat performa kita sering tidak stabil. Mungkin ketika kita bertemu dengan seseorang, kita enggan menyapa. Bukan karena sombong. Namun karena ada rasa tidak pantas yang menyusup di hati. Tak perlu khawatir. Solusinya ada 2.
Sebelum berbicara tentang sulusinya, kita bahas dulu materinya miss agata. Beliau yang cantik itu mengajarkan kami bagaimana cara mengubah penampilan seorang yang biasa menjadi luar biasa. Beliau mengajarkan kami tentang bagaimana menyesuaikan pakaian dengan profesi tertentu. Bagaiman cara duduk dan berjalan yang benar. Memakai dasi yang tepat. Dan mengenakan kombinasi dari semua itu dengan serasi.
Setiap profesi dan keadaan tertentu memiliki gaya busana dan perilaku yang berbeda. Misal ketika kita bertemu dengan pegawai kita, maka kita sebisanya mungkin juga menggunakan pakaian yang pantas dan berperilaku layaknya bos agar pegawai kita tetap respek kepada kita. Berbeda jika kita bertemu dengan teman. Walaupun kita seorang bos dan teman kita adalah karyawan, jangan sampai kita menganggap rendah teman kita tersebut.
Selain perilaku, miss agata mengajar kami tentang bagaimana cara membuat seseorang merasakan keramahan kita walaupun sebelumnya belum pernah berpapasan, atau dengan kata lain pandangan pertama. Yaitu dengan cara bersalaman yang benar dan tersenyum ramah. Ada yang unik dari penjelasan miss agata. “Dari senyuman, kita bisa melihat orang tersebut tulus atau tidak atas keramahannya kepada kita.” Ketika senyuman bibir dibarengi dengan senyuman mata dengan ditandai dengan adanya ekor mata, saat itulah mereka tersenyum tulus.
Kembali ke sebelumnya tentang 2 solusi. Yang pertama, dengan make over secara fisik seperti yang sudah aku ceritakan di atas. Dan yang kedua, adalah dengan bersyukur. Dengan bersyukur, mata kita akan terbiasa melihat hanya hal-hal yang indah. Dan akhirnya, “ tak ada yang buruk di dunia ini. Namun, hanyalah berkah yang terhampar dari pojok ujung mata kanan sampai ujung mata kiri.
Apapun yang kita terima, sykurilah..
Semoga hidup kita menjadi lebih berkualitas dengan bertambhanya syukur kita.
Salam bahagia..
Jika Aku Menjadi Presiden Indonesia
Saya kira setiap orang yang hidup di tanah air Indonesia ini mengetahui apa itu arti presiden. Walaupun ada beberapa daerah terpencil yang tidak mengetahui presiden masa sekarang. “Bukankah Gus Dur Presiden RI?” dengan polosnya orang di pulau terpencil di perbatasan kalimantan dan Malaysia itu menjawab.
Hampir satu dasawarsa presiden Gus Dur telah menanggalkan jabatannya yang hanya 2 tahun. Namun Presiden RI masa kini, SBY belum bisa menggeser kemasyhuran presiden Gus Dur. 2 Periode kepemimpinan SBY, masih kalah dengan ketenaran Gus Dur selama 2 tahun.
Jika aku menjadi presiden, sosok Gus Dur lah yang aku jadikan panutan di Indonesia ini. Mungkin tak mudah menjadi presiden, tapi jika bangsa ini maju presidenlah yang pertama berbahagia. Memang begitu padat jadwal seorang presiden. Tapi begitu besar jasa seorang presiden kepada kemajuan bangsa. Bangsa yang besar selalu memiliki pemimpin yang berjiwa pemimpin yang sangat terasah.
Jika boleh aku pesimistis, aku tak ingin menjadi presiden yang memikul begitu besar tanggung jawab. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan hak-hak rakyat yang masih banyak belum terpenuhi kepada Allah di hari pembalasan. Aku tak siap menanggungnya. Aku akui, aku belum bisa mengatur diri ku sendiri. Dan, bagaimana seorang aku yang tak siap bisa menjadi pemimpin yang baik bagi negeri yang besar ini. Terlalu banyak hal buruk yang aku bayangkan walaupun aku belum pasti menjadi presiden.
Kadang keadaan kepepet menimbulkan suatu reaksi yang luar biasa. Maksut saya, jika aku benar-benar menjadi presiden dan tak ada jalan keluar selain menjalankan amanah sebagai ‘khalifah’ semoga, kekuatan terpendam yang luar biasa itu akan terurai.
Jika aku seorang presiden.
Aku ingin melihat keadaan rakyatku lebih dekat dan merasakan sedekat-dekatnya bagaimana perasaan mereka saat itu. Apa keluhan mereka, apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka harapkan.
Telah ada hukum, aturan, dan pelaksananya(menteri, DPR dan lain-lain). Negeri ini telah lengkap dengan sumber daya alam. Namun, kemanakah kesejahteraan tersebut?
Kujadikan antek-antek pemerintah negeri ini menjadi serupa jin aladin. Dan aku hanya ingin mengetahui, entah bagaimana caranya negeri ini harus makmur.
Setiap permasalahan pasti ada solusinya. Suatu saat, jika aku menjadi presiden, aku kan berkata, ”Mari saudara-saudara setanah air Indonesia untuk berjuang bersama-sama menggapai Indonesia yang sejahtera. Kita adalah satu-kesatuan. Jika ada 1 orang yang tidak mau mengabdi untuk negeri ini, sadarkanlah! Sadarkanlah agar negeri ini tidak pincang. Mari bergerak bersama menuju Indonesia gemilang! Saudara-saudaraku. Ayo getarkan hati ini dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semoga jiwa para pejuang tetap menjaga hati kita tetap berkobar.
Indonesia mercusuar dunia!!!
Salam Indonesia.
Minggu, 18 Desember 2011
APA YANG SEBENARNYA ANDA INGINKAN???
Apakah kita benar- benar hidup? Jika kita punya impian yang kita perjuangkan, itulah menurutku kehidupan yang nyata. Tidak hanya "sekedar hidup" saja tanpa arah. Air yang mengalir tanpa arah saja tetap memiliki tujuan, yaitu laut. Mungkin banyak orang yang berprinsip jalani hidup seperti air yang mengalir. Tetapi mengapa mereka tidak memiliki pandangan kedepan seperti halnya air yang memiliki visi ke laut?
Semua bermula dari visi. Selalu mulai dengan pikiran akan mau menjadi apa nanti akhirnya (bila tak ingin jadi air yang menggenang). Sebelum kita mulai melakukan apapun, kita harus dapat menjawab pertanyaan yang paling pentingn ini.
APA YANG SEBENARNYA ANDA INGINKAN???
Ini serius. Katakan pada diri kita sendiri, apa yang paling kita inginkan?
Mengapa kita melakukan semua hal yang kita lakukan sekarang?
Mengapa kita pergi kuliah? Untuk Belajar. Ok. Lalu kita belajar untuk apa?
Untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dengan gaji yang baik. Lalu apa guna itu semua?
Supaya Anda bisa bekerja keras sampai usia 55?
Tentukan terlebih dahulu kita ingin menjadi apa, apa yang kita ingin lakukan dan pa yang ingin kita miliki, Setelah memutuskan apa yang sebenarnya kita inginkan, Kita dapat mulai merencanakan bagaimana caranya mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Jika boleh aku menganalogikan, ini seperti pergi liburan ke luar negeri. Kita HARUS menentukan terlebih dahulu lokasi liburan yang kita inginkan. Baru setelah itu, kita dapat menentukan bagaimana caranya kesana. Apakah dengan pesawat, dengan perahu, dengan mobil, atau hanya jala kaki?
Kebanyakan orang tidak menyadari apa yang mereka inginkan dalam kehidupan mereka (riset pertanyaan tentang cita2 kepada teman-teman sekelas). Kita ikut arus kebanyakan orang dan membuat keputusan berdasarkan reaksi, bukan proaksi. Kita memutuskan untuk memilih pergi ke sekolah mana, hanya karena memang sudah waktunya memilih sekolah. Kita memutuskan untuk memilih jurusan yang mana, hanya karena memang sudah waktunya untuk memilih jurusan. Kita memutuskan untuk memilih pekerjaan yang mana setelah lulus, hanya kita memang sudah waktunya untuk memilih pekerjaan. Tetapi, kenyataannya, kita bahkan tidak tahu untuk apa kita memilih sekolah, jurusan, dan pekerjaan itu. (Hayo,, ngaku...Semoga kita tidak termasuk. hehehe)
Banyak orang mengambil keputusan tidak berdasarkan apa yang mereka benar-benar inginkan, tetapi berdasarkan latar belakang dan keadaan mereka pada saat itu. Mereka berkata," Saya tidak tahu mau jadi apa ketika saya besar nanti, tapi karena saya sudah mengambil jurusan ilmu pasti saat sekolah, mungkin saya akan mengambil jurusan ilmu pasti juga di universitas. Saya tidak tahu apa yang ingin saya lakukan 5 tahun yang akan datang, tapi karena saya sudah belajar ilmu teknik di universitas, saya rasa saya akan mencari pekerjaan di bidang teknik." Dan seterusnya dan seterusnya.
Bagiku, hal ini seperti berkatam," Saya tidak tahu ke mana saya ingin pergi liburan nanti. Tetapi karena saya sudah punya tiket bus ini, saya rasa saya akan naik saja bus itu dan ikut kemana pun bus itu akan pergi." Iya kalau pergi ke tempat wisata. Kalau hanya mangkal di terminal seharian gimana? hahaha
Sekarang, izinkan aku bertanya kepada para calon orang sukses. :D. Dengan mengambil langkah-langkah yang tidak pasti adan tidak direncanakan seperti itu, apakah kita pikir kita akan dapat mencapai impian-impian kita, menjadi pribadi yang benar-benar kita inginkan, melakukan apa yang benar-benar kita ingin lakukan, dan memiliki apa yang benar-benar kita ingin miliki?
Ini adalah hidup kita sendiri, dan jika bukan kita yang merencanakannya dengan baik, siapa lagi?
(buat proposal hidup aja.. Baca postingan sebelumnya tentang Tuhan, inilah proposal hidupku")
Bagiku, tidak memiliki tujuan itu sama seperti daun yang jatuh hanyut di sungai. Mengikuti arus seiring berjalannya waktu, tidak menyadari bahwa sungai tersebut akan berakhir di lautan, tempat daun tersebut akan tenggelam.
Untuk mengambil alih kontrol hidup kita dan untuk hidup sesuai impian kita, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan.
Tanyakan ini ke diri kita sendiri dan jangan pergi ke mana-mana sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut.
Selalu mulai dengan pikiran akan mau menjadi apa nanti akhirnya. Semua bermula dari visi.
Mengutip kata-katanya Bong Chandra, "See You at The TOP."
Semoga kita tetap terjaga untuk berbakti kepada negeri ini.
Salam sukses dan mulia..
LEPASKAN IMPIANMU, DAN KAU AKAN PASRAH MENERIMA NASIBMU YANG BEGITU SAJA!
Berikut sebuah cerita yang selalu mengingatkanku untuk selalu memperjuangkan impian-impianku dan berani berkata “tidak” pada kesempatan yang “salah”. Sebelum aku uraikan tentang kesempatan yang salah, simak dulu cerita berikut yang aku kutip dari buku A GIFT FROM A FRIEND by MERRY RIANA.
KISAH KONDOMINIUM (mungkin seperti apartemen)
Sepasang pengantin muda baru saja memutuskan membeli sebuah apartemen baru. Apartemen baru ini terletak di lantai 72.
Setelah mereka memberikan pembayaran tKita jadi untuk apartemen tersebut, kunci apartemen pun diserahkan kepada mereka.
Mereka sangat bersemangat. Sesudah mendapatkan kuncinya, mereka ingin pergi ke lantai 72 untuk melihat apartemen baru mereka. Yang membuat mereka lebih bersemangat lagi, kondominium itu hanya terletak di sebelah kantor pemasaran tempat mereka membayar tanda jadi.
Mereka pun cepat-cepat menuju kondominium itu dan mencari lift untuk naik ke lantai 72, tempat unit apartemen mereka.
Mereka sangat kecewa saat tahu bahwa sistem lift sedang diperbaiki. Tetapi, karena sangat antusias untuk melihat apartemen baru, mereka tidak keberatan naik lewat tangga menuju ke lantai 72. Jadi mereka pun mulai naik.
Setelah mencapai lantai 21, pasangan ini mulai merasa lelah. Karena mengetahui bahwa perjalanan mereka masih jauh, mereka memutuskan untuk meninggalkan tas mereka di lantai 21 dan melanjutkan naik tangga lagi.
Selanjutnya, mereka naik sampai lantai 45. Rasa lelah sudah sangat mereka rasakan saat itu. Mereka mulai saling menyalahkan karena memutuskan naik lewat tangga.
Mereka bahkan mulai menyalahkan satu sama lain karena memutuskan untuk membeli apartemen di lantai yang tertinggi. Tetapi, karena sudah terlanjur naik ke lantai 45, dan tinggal 27 lantai lagi, mereka memutuskan untuk terus naik.
Ketika mereka sampai di lantai 60, mereka sudah tidak saling bicara. Mereka berpikir ide naik tangga sampai lantai 72 ini adalah ide yang konyol. Mereka memutuskan untuk diam saja dan tidak berbicara mengenai hal itu lagi.
Akhirnya, mereka mencapai tujuan akhir mereka, lantai 72. Mereka sampai di depan pintu dan mereka masih bisa tersenyum lemah ketika saling berpKitangan. Sejenak mereka saling menunggu untuk mengambil kunci dan membuka pintu apartemen mereka, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa mereka telah meninggalkan kuncinya di lantai 21 bersama tas mereka.
———
Kita semua memiliki impian ketika kita masih kecil, apakah itu menjadi dokter, guru, pilot, pengusaha, dan lain sebagainya. Tetapi, ketika kita mencapai usia 21 tahun, umumnya kita mengikuti orang kebanyakan. Kita melepaskan impian kita dan melanjutkan hidup kita sama seperti teman-teman kita yang lain. Ini sedikit menjelaskan tentang ketidak beranian untuk berkata tidak pada kesempatan yang “salah”.
Ketika mencapai usia 45 tahun, kita mulai merasa kecewa dengan kondisi hidup kita dan mulai menyalahkan semua orang lain, kecuali diri kita sendiri. Aku belum berusia 45, dan aku tidak yakin benar bagaimana perasaan orang-orang yang berumur 45. Tapi setelah mengamati orang-orang berusia paruh baya di sekitar aku, aku menyadari bahwa kebanyakan dari mereka kecewa dengan pekerjaan mereka. Mereka kecewa dengan keadaan keuangan mereka. Di satu sisi, mereka tertekan oleh kebutuhan untuk membiayai orang tua mereka setelah mereka pensiun. Berapa pun gaji yang mereka dapat akan selalu mengalir lagi untuk membayar semua tagihan, cicilan pinjaman, biaya hidup, dan sebagainya. Jangankan liburan, mereka bahkan tidak tahu umur berapa mereka akan dapat berhenti bekerja dan pensiun.
Lalu mereka mulai menyalahkan semua orang. Mereka menyalahkan Tuhan karena membiarkan situasi buruk ini menimpa mereka. Mereka menyalahkan pemerintah karena mengenakan tarif pajak yang tinggi dan tidak menyediakan kesempatan dan peluang yang cukup bagi mereka. Mereka menyalahkan orang tua mereka karena tidak menyediakan kesempatan dan peluang yang cukup bagi mereka. Mereka menyalahkan orangtua mereka karena tidak bekerja cukup keras sehingga tidak dapat memberikan warisan yang cukup. Mereka menyalahkan anak-anak karena tidak belajar cukup giat untuk mendapatkan beasiswa yang meringankan beban keuangan mereka. Daftar keluhan ini berlanjut terus….
Ketika mencapai usia 60 tahun, mereka biasanya tidak bisa berkata banyak lagi. Aku melihat begitu banyak orang tua di umur tersebut yang tidak banyak lagi berkomunikasi dengan orang lain. Mereka hanya menjalani hidup dan menunggu waktu mereka tiba. Mungkin mereka tidak berkomunikasi banyak lagi karena mereka menyesal akan hidup mereka yang tidak mencapai apa pun atau tidak melakukan sesuatu yang berbeda ketika mereka masih muda. Aku tidak tahu. Aku hanya menduga.
Saat mencapai usia 72 tahun, ketika menyadari bahwa waktu mereka telah tiba untuk berkata selamat tinggal, mereka hanya dapat berkata demikian sambil meneteskan air mata yang mengalir di pipi. Mereka mungkin berpikir: Apa yang mungkin terjadi jika aku tidak melepaskan impian aku ketika aku masih berusia 21? Apakah kisah hidup aku akan berbeda?
Gambaran ini mungkin terlihat suram bagi kita setelah kita membaca kisah ini. Tetapi, ini bukanlah akhir perjalanan kita. Apa yang aku gambarkan di sini adalah untuk membantu agar Kita bisa melihat masa depan, kehidupan apa yang kita jalani jika kita membuang impian ketika kita masih muda.
Bagi teman-temanku yang masih kuliah, semoga kita memang kuliah untuk mewujudkan apapun cita-cita itu. Menikmati jalannya kuliah sambil membayangkan perjalanan impian semakin dekat. Bukankah menyenangkan? Bagi yang belum nyaman dengan kuliahnya (salah jurusan atau terpaksa), silahkan ambil langkah yang tepat. BERANILAH melangkah untuk impian kita. Kita yang masih muda, masih ada kesempatan untuk mengambil "kunci" impian kita yang belum terlalu jauh kita tinggalkan.
Maaf, bagi yang sudah udzur, masih ada kesempatan juga. Tolong ingatkan para generasi muda untuk tetap menggenggam impian mereka. Dan semoga impian mu yang lalu dikabulkan di kehidpan selanjutnya. amin..
Bagi teman-temanku yang masih kuliah, semoga kita memang kuliah untuk mewujudkan apapun cita-cita itu. Menikmati jalannya kuliah sambil membayangkan perjalanan impian semakin dekat. Bukankah menyenangkan? Bagi yang belum nyaman dengan kuliahnya (salah jurusan atau terpaksa), silahkan ambil langkah yang tepat. BERANILAH melangkah untuk impian kita. Kita yang masih muda, masih ada kesempatan untuk mengambil "kunci" impian kita yang belum terlalu jauh kita tinggalkan.
Maaf, bagi yang sudah udzur, masih ada kesempatan juga. Tolong ingatkan para generasi muda untuk tetap menggenggam impian mereka. Dan semoga impian mu yang lalu dikabulkan di kehidpan selanjutnya. amin..
Moral kisah ini adalah jangan lepaskan impian Kita dan jangan menukarnya dengan kesempatan atau peluang yang “salah”. Kesempatan yang “salah” dapat datang secara tersamar sebagai kesempatan yang sepertinya nyaman dan kesempatan kerja yang sepertinya cocok setelah kita lulus sekolah. Tapi, jika kesempatan itu tidak membawa kita lebih dekat pada impian kita, apa gunanya?
Untuk masuk ke pintu apartemen impian, Kita akan memerlukan kuncinya. Jangan pernah menjatuhkan kunci itu. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan kunci duplikat kepada kita.
Semoga kita menjadi bisa menjadi insan yang memperjuangkan kesejahteraan negeri ini dengan menjadi pengusaha(membuka lapangan pekerjaan). Amin..
Salam bahagia dan Salam untuk hidup kita yang bahagia.
Kalau ada yang belum punya imipian, silahkan baca postingan Apa yang Sebenarnya Anda Inginkan(referensinya juga buku a gift from a friend lho)?
Senin, 12 Desember 2011
Steve Jobs itu LAPAR dan BODOH!!!
Sepertinya tak ada yang lebih baik untuk meresume buku ini (Steve Jobs Otak Genius Di Balik Kesuksesan Apple) dengan mencuplik kisah Steve Jobs daripada menulis opiniku sendiri. Coba saja nikmati kalimat-kalimat Steve berikut. Saya yakin anda akan terkesima.
Pada 12 Juni 2005, Steve Jobs menjadi pembicara utama pada acara wisuda di Stanford University, yang berlangsung di Stanford Stadium. Mengenakan jins terbungkus toga, Jobs menyampaikan ceramahnya di hadapan sekitar 23.000 wisudawan dan keluarga mereka yang memenuhi stadion.
Presiden Stanford University, John Hennessy, mengatakan bahwa Jobs mewujudkan semangat universitas melalui "keinginannya untuk menjadi orang berani dan menemukan arah baru". Hennessy juga mengakui reputasi Jobs sebagai seorang inovator, visioner dan pendukung pendidikan berkat upayanya mengembangkan kemitraan di tahun-tahun awal Apple ketika memperkenalkan komputer ke sekolah-sekolah. Berikut ini ceramah atau pidato Steve Jobs di Stanford University yang saya ambil dari buku"Steve Jobs Otak Genius Di Balik Kesuksesan Apple".
Pidato di Stanford University
Saya merasa terhormat berada disini bersama Anda pada acara wisuda salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tak pernah lulus dari perguruan tinggi. Terus terang, ini saat terdekat saya dengan sebuah acara wisuda perguruan tinggi. Hari ini saya ingin menyampaikan tiga kisah dari hidup saya. Hanya itu. Tak lebih. Hanya tiga kisah.
Kisah pertama adalah tentang menghubungkan titik-titik
Saya drop out dari Reed College setelah enam bulan pertama, tapi kemudian saya masih kuliah pada sekitar 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar keluar. Jadi, mengapa saya drop out?
Hal itu dimulai sebelum saya lahir. Ibu biologis saya adalah seorang lulusan perguruan tinggi yang masih muda dan tidak menikah, dan dia memutuskan menawarkan saya untuk diadopsi. Dia ingin sekali saya diadopsi oleh sepasang lulusan perguruan tinggi, maka segalanya diatur agar saya bisa diadopsi saat kelahiran oleh seorang pengacara dan istrinya. Namun ketika saya lahir, mereka mengaku sebenarnya menginginkan bayi perempuan. Maka orangtua angkat saya, yang berada dalam daftar tunggu, mendapat telepon tengah malam "Kami mendapat bayi lelaki yang tak diharapkan, kalian ingin dia?" Mereka menjawab "Tentu saja". Ibu biologis saya kemudian tahu bahwa ibu angkat saya tak pernah lulus dari perguruan tinggi dan ayah angkat saya tak pernah lulus dari SMA. Dia menolak menandatangani kertas adopsi terakhir. Dia baru mengalah beberapa kemudian setelah orang tua saya berjanji bahwa suatu hari saya akan masuk perguruan tinggi.
Dan 17 tahun kemudian, saya benar-benar kuliah di perguruan tinggi. Tapi naifnya saya memilih perguruan tinggi hampir sama mahalnya dengan Standford, dan semua tabungan orangtua saya habis untuk biaya kuliah saya. Setelah enam bulan, saya tidak melihat kelebihan kuliah. Saya tak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup saya dan saya tak tahu bagaimana perguruan tinggi akan membantu saya mengetahuinya. Dan disana saya menghabiskan semua uang yang telah dikumpulkan orangtua saya sepanjang hidup mereka. Maka saya memutuskan drop out dan saya percaya bahwa saya akan baik-baik saja. Memang sangat menakutkan saat itu, tapi kalau sekarang melihat ke belakang, saya melihat itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat. Saat memutuskan keluar, saya bisa menghentikan mata kuliah wajib yang tidak menarik saya, dan mulai mengikuti kuliah-kuliah lain yang tampak menarik.
Itu bukan kisah romantis. Saya tak punya kamar asrama, maka saya tidur di lantai kamar seorang teman, saya mencari uang untuk makan dengan menjual botol-botol coke bekas, dan saya berjalan sebelas kilometer melintasi kota tiap hari minggu untuk mendapat makanan enak di Biara Hare Khrisna. Dan banyak hal yang awalnya menjadi sandungan karena saya mengikuti keingintahuan dan intuisi saya berubah kemudian menjadi tak ternilai harganya. Saya berikan satu contoh:
Reed College pada saat itu mungkin menawarkan pelajaran kaligrafi terbaik di negara ini.Di sepanjang kampus, bertebaran poster, label, dan lukisan kaligrafi tangan yang indah. Karena saya sudah drop out dan tidak harus mengambil kelas wajib, saya memutuskan mengambil satu kelas kaligrafi untuk belajar bagaimana membuat kaligrafi itu. Saya belajar tentang huruf serif dan san serif, tentang berbagai besaran ruang di antara kombinasi-kombinasi huruf, tentang apa yang membuat tipografi yang indah menjadi lebih indah. Itu kehalusan yang indah, historis, dan artistik yang tak bisa ditangkap ilmu pengetahuan, dan hal itu membuat saya terpesona.
Saya tak pernah berpikir kaligrafi akan memberikan aplikasi praktis dalam hidup saya. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika kami sedang mendesain komputer Macintosh yang pertama, pelajaran itu muncul kembali di kepala saya. Dan kami menerapkannnya pada Mac. Itu komputer pertama dengan tipografi yang indah. Jika saya tak pernah mengikuti mata kuliah tunggal itu di perguruan tinggi, komputer Mac tak akan pernah memiliki berbagai jenis huruf atau ruang-ruang antarhuruf yang proporsional. Dan karena Windows menyalin Mac, tampaknya tak akan ada komputer personal yang memiliki jenis-jenis huruf itu. Jika saya tidak pernah drop out, saya tak akan pernah mengikuti kelas kaligrafi ini, dan komputer-komputer personal mungkin tak akan memiliki tipografi yang indah seperti sekarang. Tentu saja tak mungkin menghubungkan titik-titik di masa depan ketika saya masih di perguruan tinggi. Tapi sangat, sangat jelas jika kita melihat ke belakang sepuluh tahun kemudian.
Lagi pula, Anda tidak bisa menghubungkan titik-titik itu di masa depan; Anda hanya bisa menghubungkan titik-titik itu dengan melihat masa lalu. Maka Anda harus percaya bahwa titik-titik itu akan saling berhubungan di masa depan. Anda harus mempercayai sesuatu, ketekunan Anda, takdir, kehidupan, karma, apa saja. Pendekatan ini tidak pernah membuat saya jatuh dan malah membuat semua perbedaan dalam kehidupan saya.
Kisah kedua saya adalah tentang cinta dan kehilangan
Saya beruntung, saya menemukan sejak awal saya mencintai berbuat sesuatu. Saya dan Woz memulai Apple di dalam garasi rumah orangtua saya ketika saya berusia 20 tahun. Kami bekerja keras, dan dalam sepuluh tahun Apple tumbuh dari hanya dua orang kami di dalam garasi menjadi sebuah perusahaan bernilai 2 miliar dolar dengan lebih dari 4.000 karyawan. Kami sudah merilis kreasi kami, Macintosh, setahun sebelumnya, dan saya baru berusia 30 tahun. Dan kemudian saya dipecat. Bagaimana bisa kau dipecat dari perusahaan yang kau dirikan? Well, ketika Apple tumbuh, kami merekrut seseorang yang saya pikir sangat berbakat untuk bersama dengan saya menjalankan perusahaan, dan selama tahun pertama atau lebih segalanya berlangsung baik. Namun kemudian visi kami tentang masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami mulai jatuh. Saat itu, Dewan Direktur berada di sisi dia. Maka dalam usia 30 tahun saya dikeluarkan. Dan dikeluarkan di depan umum. Apa yang telah menjadi fokus dalam seluruh masa dewasa hidup saya telah hilang, dan itu sangat menghancurkan.
Lagi pula, Anda tidak bisa menghubungkan titik-titik itu di masa depan; Anda hanya bisa menghubungkan titik-titik itu dengan melihat masa lalu. Maka Anda harus percaya bahwa titik-titik itu akan saling berhubungan di masa depan. Anda harus mempercayai sesuatu, ketekunan Anda, takdir, kehidupan, karma, apa saja. Pendekatan ini tidak pernah membuat saya jatuh dan malah membuat semua perbedaan dalam kehidupan saya.
Kisah kedua saya adalah tentang cinta dan kehilangan
Saya beruntung, saya menemukan sejak awal saya mencintai berbuat sesuatu. Saya dan Woz memulai Apple di dalam garasi rumah orangtua saya ketika saya berusia 20 tahun. Kami bekerja keras, dan dalam sepuluh tahun Apple tumbuh dari hanya dua orang kami di dalam garasi menjadi sebuah perusahaan bernilai 2 miliar dolar dengan lebih dari 4.000 karyawan. Kami sudah merilis kreasi kami, Macintosh, setahun sebelumnya, dan saya baru berusia 30 tahun. Dan kemudian saya dipecat. Bagaimana bisa kau dipecat dari perusahaan yang kau dirikan? Well, ketika Apple tumbuh, kami merekrut seseorang yang saya pikir sangat berbakat untuk bersama dengan saya menjalankan perusahaan, dan selama tahun pertama atau lebih segalanya berlangsung baik. Namun kemudian visi kami tentang masa depan mulai berbeda dan akhirnya kami mulai jatuh. Saat itu, Dewan Direktur berada di sisi dia. Maka dalam usia 30 tahun saya dikeluarkan. Dan dikeluarkan di depan umum. Apa yang telah menjadi fokus dalam seluruh masa dewasa hidup saya telah hilang, dan itu sangat menghancurkan.
Selama beberapa bulan, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa bahwa saya telah membuat sedih generasi entrepreneur terdahulu, bahwa saya telah menjatuhkan tongkat panglima ketika tongkat itu diberikan kepada saya. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena memutar sekrup begitu buruk. Saya merasa gagal di depan khalayak dan saya bahkan berpikir untuk pergi jauh darisana. Tapi pelan-pelan sesuatu mulai menyingsing di dalam diri saya, saya masih mencintai apa yang saya lakukan. Kejadian di Apple tidak mengubah hal itu sedikit pun. Saya sudah ditolak, tapi saya masih jatuh cinta. Maka saya memutuskan untuk memulai lagi.
Saya tidak melihatnya saat itu, tapi kemudian saya melihat bahwa dipecat dari Apple merupakan hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Beratnya beban menjadi orang sukses digantikan ringannya menjadi pemula kembali, kurang yakin tentang segalanya. Hal itu membebaskan saya masuk periode paling kreatif dari hidup saya.
Selama lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, perusahaan lain yang dinamakan Pixar, dan jatuh cinta kepada seorang wanita luar biasa yang akan menjadi istri saya. Pixar kemudian membuat film animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Dalam sebuah tikungan kejadian yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung renaisans Apple sekarang. Saya dan Laurence pun memiliki keluarga yang indah.
Saya sangat yakin bahwa semua ini takkan terjadi jika saya tidak dipecat dari Apple. Ini seperti kita minum obat.Pasien memang memerlukannya. Kadang-kadang kehidupan menghantam kepala kita dengan bata. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya bertahan adalah saya mencintai apa yang saya kerjakan. Dan apa yang terjadi pada pekerjaan sama halnya dengan apa yang terjadi pada orang yang kita cintai. Pekerjaan kita akan mengisi sebagian besar kehidupan kita, dan satu-satunya cara untuk benar-benar memuaskannya adalah mengerjakan apa yang kita yakini pekerjaan besar. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang kita kerjakan. Jika kalian belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan berhenti. Seperti halnya semua materi dalam hati, kalian akan tahu kapan menemukannya. Dan, seperti jenis hubungan apa pun yang hebat, pekerjaan besar itu akan makin baik sejalan dengan berlalunya tahun demi tahun. Jadi, tetaplah mencari sampai kalian menemukannya. Jangan berhenti.
Cerita ketiga saya adalah tentang kematian
Ketika berusia 17 tahun, saya membaca kutipan seperti ini: "Jika kau hidup setiap hari seakan-akan itu adalah hari terakhirmu, suatu hari akan benar." ("If you live each day as if it was your last, someday you`ll most certainly be right.") Kutipan ini mengesankan saya, dan sejak itu, selama 33 tahun terakhir, saya menatap cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri: "Jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya, akankah saya ingin melakukan apa yang harus saya lakukan hari ini?" Dan manakala jawabannya adalah "Tidak" dalam waktu beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya perlu mengubah sesuatu.
Mengingat bahwa saya akan mati cepat adalah alat penting yang pernah saya lakukan untuk membantu saya membuat pilihan besar dalam hidup. Sebab hampir segala hal-semua ekspektasi eksternal, semua kebanggaan/kesombongan, semua ketakutan akan rasa malu atau kegagalan,-semua itu akan mengerut di depan wajah kematian, meninggalkan hanya hal yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kita akan mati adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindarkan perangkap berpikir bahwa kita akan kehilangan sesuatu. Kita sudah telanjang. Tak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati kita.
Sekitar setahun lalu, saya didiagnosis menderita kanker. Saya menjalani scan pada pukul 07.30 pagi, dan hasilnya jelas menunjukkan ada tumor di dalam pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter bilang bahwa itu jenis kanker yang tak bisa diobati, dan bahwa saya hanya bisa bertahan tak lebih dari tiga sampai enam bulan. Dokter saya menasihatkan agar saya pulang dan bersiap menangani urusan saya, yang tak lain kode dokter agar saya bersiap untuk mati. Itu berarti saya harus mencoba bilang pada anak-anak tentang segala hal yang saya pikir akan butuh waktu sepuluh tahun hanya dalam waktu beberapa bulan. Itu berarti meyakinkan bahwa segala perincian finalnya sudah rampung sehingga semuanya akan mudah bagi keluarga saya. Itu berarti bagi saya harus mengucapkan selamat tinggal.
Saya hidup dengan diagnosis itu setiap hari. Sore itu saya menjalani biopsi, yakni para dokter memasukkan endoskop ke kerongkongan saya, melalui perut saya dan masuk ke usus saya, memasukkan sebatang jarum ke dalam pankreas saya dan mengambil beberapa sel dari tumor itu. Saya tenang saja, tapi istri saya, yang juga ada disana, bilang bahwa ketika para dokter menunjukkan sel-sel itu di bawah mikroskop, mereka berteriak sebab diketahui bahwa itu jenis kanker pankreas yang sangat jarang dan bisa diobati dengan operasi. Saya menjalani operasi dan saya baik-baik saja sekarang.
Itulah saat terdekat saya dengan kematian, dan saya harap itu tetap yang terdekat selama beberapa dekade ke depan. Setelah selamat melalui tahap itu, saya sekarang bisa mengatakan hal ini kepada kalian dengan sedikit lebih yakin dibanding ketika kematian merupakan konsep yang berguna tapi murni intelektual:
Tak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang sana ingin pergi ke surga tak ingin mati untuk pergi ke sana. Namun kematian adalah takdir bagi kita semua. Tak pernah ada orang bisa lolos dari kematian. Dan memang begitulah, sebab kematian sangat mungkin adalah penemuan tunggal terbaik kehidupan. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Kematian menyisihkan golongan tua memberikan jalan buat kaum muda. Sekarang kaum muda itu adalah Anda, tapi suatu hari, tak lama lagi dari sekarang, kalian akan pelan-pelan menjadi tua dan tersisihkan. Maaf begitu dramatis, tapi ini betul sekali.
Waktu Anda sangat terbatas, maka jangan membuang-buang waktu. Jangan terperangkap dogma-yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan keriuhan pendapat orang lain membenamkan suara hati Anda sendiri. Dan yang terpenting, tanamkan keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda. Keduanya sedikit banyak tahu apa yang benar-benar Anda inginkan. Segala hal yang lain adalah nomor dua.
Ketika saya muda, ada sebuah terbitan yang mengagumkan yang berjudul The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu kitab suci generasi saya. Buku ini ditulis seseorang bernama Stewart Brand yang tinggal tak jauh dari sini, di Menlo Park, dan ia membawa buku itu ke kehidupan dengan sentuhan puitisnya. Itu terjadi pada akhir 1960-an, sebelum komputer personal dan desktop diluncurkan, sehingga buku itu disebut dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Buku ini mirip semacam Google dalam bentuk buku, 35 tahun sebelum Google muncul: idealistis, dan penuh dengan alat yang rapi dan gagasan yang hebat.
Stewart dan timnya memasukkan/mengambil beberapa isu dari The Whole Earth Catalog, dan kemudian ketika (buku ini) berjalan di lintasannya, mereka menerbitkan edisi terakhir. Itu terjadi pada pertengahan 1970-an, dan saya berusia sama dengan kalian. Di sampul belakang terbitan terakhir mereka terdapat foto jalan desa pada pagi hari, pemandangan yang mungkin kalian dapat jika kalian senang bertualang. Di bawah gambar itu terdapat tulisan: "Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh." ("Stay Hungry. Stay Foolish.") Itu pesan perpisahan mereka sebagai kesimpulan. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya selalu ingin demikian untuk diri saya sendiri. Dan sekarang, setelah Anda lulus, saya ingin hal itu untuk Anda.
Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.
Terima Kasih Banyak.
Selama lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, perusahaan lain yang dinamakan Pixar, dan jatuh cinta kepada seorang wanita luar biasa yang akan menjadi istri saya. Pixar kemudian membuat film animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Dalam sebuah tikungan kejadian yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung renaisans Apple sekarang. Saya dan Laurence pun memiliki keluarga yang indah.
Saya sangat yakin bahwa semua ini takkan terjadi jika saya tidak dipecat dari Apple. Ini seperti kita minum obat.Pasien memang memerlukannya. Kadang-kadang kehidupan menghantam kepala kita dengan bata. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya bertahan adalah saya mencintai apa yang saya kerjakan. Dan apa yang terjadi pada pekerjaan sama halnya dengan apa yang terjadi pada orang yang kita cintai. Pekerjaan kita akan mengisi sebagian besar kehidupan kita, dan satu-satunya cara untuk benar-benar memuaskannya adalah mengerjakan apa yang kita yakini pekerjaan besar. Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang kita kerjakan. Jika kalian belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan berhenti. Seperti halnya semua materi dalam hati, kalian akan tahu kapan menemukannya. Dan, seperti jenis hubungan apa pun yang hebat, pekerjaan besar itu akan makin baik sejalan dengan berlalunya tahun demi tahun. Jadi, tetaplah mencari sampai kalian menemukannya. Jangan berhenti.
Cerita ketiga saya adalah tentang kematian
Ketika berusia 17 tahun, saya membaca kutipan seperti ini: "Jika kau hidup setiap hari seakan-akan itu adalah hari terakhirmu, suatu hari akan benar." ("If you live each day as if it was your last, someday you`ll most certainly be right.") Kutipan ini mengesankan saya, dan sejak itu, selama 33 tahun terakhir, saya menatap cermin setiap pagi dan bertanya pada diri sendiri: "Jika hari ini adalah hari terakhir hidup saya, akankah saya ingin melakukan apa yang harus saya lakukan hari ini?" Dan manakala jawabannya adalah "Tidak" dalam waktu beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya perlu mengubah sesuatu.
Mengingat bahwa saya akan mati cepat adalah alat penting yang pernah saya lakukan untuk membantu saya membuat pilihan besar dalam hidup. Sebab hampir segala hal-semua ekspektasi eksternal, semua kebanggaan/kesombongan, semua ketakutan akan rasa malu atau kegagalan,-semua itu akan mengerut di depan wajah kematian, meninggalkan hanya hal yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kita akan mati adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindarkan perangkap berpikir bahwa kita akan kehilangan sesuatu. Kita sudah telanjang. Tak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati kita.
Sekitar setahun lalu, saya didiagnosis menderita kanker. Saya menjalani scan pada pukul 07.30 pagi, dan hasilnya jelas menunjukkan ada tumor di dalam pankreas saya. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter bilang bahwa itu jenis kanker yang tak bisa diobati, dan bahwa saya hanya bisa bertahan tak lebih dari tiga sampai enam bulan. Dokter saya menasihatkan agar saya pulang dan bersiap menangani urusan saya, yang tak lain kode dokter agar saya bersiap untuk mati. Itu berarti saya harus mencoba bilang pada anak-anak tentang segala hal yang saya pikir akan butuh waktu sepuluh tahun hanya dalam waktu beberapa bulan. Itu berarti meyakinkan bahwa segala perincian finalnya sudah rampung sehingga semuanya akan mudah bagi keluarga saya. Itu berarti bagi saya harus mengucapkan selamat tinggal.
Saya hidup dengan diagnosis itu setiap hari. Sore itu saya menjalani biopsi, yakni para dokter memasukkan endoskop ke kerongkongan saya, melalui perut saya dan masuk ke usus saya, memasukkan sebatang jarum ke dalam pankreas saya dan mengambil beberapa sel dari tumor itu. Saya tenang saja, tapi istri saya, yang juga ada disana, bilang bahwa ketika para dokter menunjukkan sel-sel itu di bawah mikroskop, mereka berteriak sebab diketahui bahwa itu jenis kanker pankreas yang sangat jarang dan bisa diobati dengan operasi. Saya menjalani operasi dan saya baik-baik saja sekarang.
Itulah saat terdekat saya dengan kematian, dan saya harap itu tetap yang terdekat selama beberapa dekade ke depan. Setelah selamat melalui tahap itu, saya sekarang bisa mengatakan hal ini kepada kalian dengan sedikit lebih yakin dibanding ketika kematian merupakan konsep yang berguna tapi murni intelektual:
Tak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang sana ingin pergi ke surga tak ingin mati untuk pergi ke sana. Namun kematian adalah takdir bagi kita semua. Tak pernah ada orang bisa lolos dari kematian. Dan memang begitulah, sebab kematian sangat mungkin adalah penemuan tunggal terbaik kehidupan. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Kematian menyisihkan golongan tua memberikan jalan buat kaum muda. Sekarang kaum muda itu adalah Anda, tapi suatu hari, tak lama lagi dari sekarang, kalian akan pelan-pelan menjadi tua dan tersisihkan. Maaf begitu dramatis, tapi ini betul sekali.
Waktu Anda sangat terbatas, maka jangan membuang-buang waktu. Jangan terperangkap dogma-yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan keriuhan pendapat orang lain membenamkan suara hati Anda sendiri. Dan yang terpenting, tanamkan keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda. Keduanya sedikit banyak tahu apa yang benar-benar Anda inginkan. Segala hal yang lain adalah nomor dua.
Ketika saya muda, ada sebuah terbitan yang mengagumkan yang berjudul The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu kitab suci generasi saya. Buku ini ditulis seseorang bernama Stewart Brand yang tinggal tak jauh dari sini, di Menlo Park, dan ia membawa buku itu ke kehidupan dengan sentuhan puitisnya. Itu terjadi pada akhir 1960-an, sebelum komputer personal dan desktop diluncurkan, sehingga buku itu disebut dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Buku ini mirip semacam Google dalam bentuk buku, 35 tahun sebelum Google muncul: idealistis, dan penuh dengan alat yang rapi dan gagasan yang hebat.
Stewart dan timnya memasukkan/mengambil beberapa isu dari The Whole Earth Catalog, dan kemudian ketika (buku ini) berjalan di lintasannya, mereka menerbitkan edisi terakhir. Itu terjadi pada pertengahan 1970-an, dan saya berusia sama dengan kalian. Di sampul belakang terbitan terakhir mereka terdapat foto jalan desa pada pagi hari, pemandangan yang mungkin kalian dapat jika kalian senang bertualang. Di bawah gambar itu terdapat tulisan: "Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh." ("Stay Hungry. Stay Foolish.") Itu pesan perpisahan mereka sebagai kesimpulan. Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh. Dan saya selalu ingin demikian untuk diri saya sendiri. Dan sekarang, setelah Anda lulus, saya ingin hal itu untuk Anda.
Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.
Terima Kasih Banyak.
Jadi, Seberapa besar pengaruhnya terhadap diri kita, tergantung dengan apa yang akan kita lakuka setelah membaca ini. Ayo semangat saudara-saudara. Kesuksesan yang mulia sedang menanti kita. Ikutilah bisik hati kita. Karena hati kita adalah karunia yang indah dari Allah yang Maha Mengetahui. Mengutip kata-katanya, Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh.
Semoga Kesuksesan dan Kemuliaan selalu mengiri anda semua. :D
Langganan:
Komentar (Atom)





