Menulis adalah kemerdekaan. Karena menulis itu bebas. Di negara Indonesia yang berasaskan Pancasila ini, siapapun boleh berpendapat. Tak terkecuali seorang penjual nasi goreng yang bertweet ria meramaikan pasar internet.
Seorang penjual makanan, mahasiswa, jurnalis, politikus, dan berbagai bidang lainnya, memiliki peranan yang berbeda dalam berpartisipasi di dunia tulis menulis negeri ini.
Misal seorang politikus yang menulis tentang suatu permasalahan dalam pemerintahan sering diaanggap tidak asli dan memihak dari sudut pandang partainya. Jika seorang jurnalis yang menulis, mungkin dia akan mencari kekurangan apa yang dapat dijual melalui artikel yang akan ditulisnya.
Berbeda lagi jika mahasiswa yang menulis.
Dimungkinkan, di antara sekian bidang sudut pandang mahasiswa memiliki sudut pandang netral dengan kemampuan dan ilmu yang lumayan mumpuni untuk mengkaji suatu permasalahan.
Jika mahasiswa menulis, mahasiswa bisa menjadi kontrol rezim pemerintahan yang berlangsung. Demo? Sepertinya sudah tak jamannya lagi. Menulis memberikan lebih banyak manfaat daripada demo. Selain jangkauan yang luas dan berpengaruh disegala usia(tentunya yang dapat membaca) juga efisien tenaga dan waktu.
-ganti tema- :)
Jika ada masalah, tulis saja. Baca, renungkan, mungkin akan mendatkan solusinya sendiri tanpa repot konsultasi. Pernahkah merasa galau? Hebat sekali anda mau mengakuinya. Beberapa saran dari seorang guru, tulis saja masalahmu(galau). Coba deskripsikan detail masalah yang 'menggalaukan'. Nikmati saja prosesnya. Mungkin, tak disangka-sangka perasaan galau mulai memudar. Jangan percaya kalau belum nyoba yah.. hehehe Just Try it at Home.
Ya Allah, izinkanlah kami hidup 1 hari lagi untuk berbuat yang terbaik dan bermanfaat.
Senin, 31 Oktober 2011
Menulis Populer Bersama Bapak Rudi Santoso
Jumat, 21 Oktober 2011. Hari itu, adalah hari yang cerah untuk beraktivitas. Tak seperti hari jum'at yang lain, hari itu kami mahasiswa Sistem Informasi 2011 ITS kehadiran seorang dosen STIKOM yang juga aktif dalam dunia jurnalis. Sungguh keberuntungan bagi kami yang masih dalam tahap pembelajaran untuk bertemu dengan beliau untuk membagi ilmunya dengan kami.
Sikap yang ramah dan terbuka membuat kami antusias dalam kuliah tamu tersebut.
Dalam kesempatan langka tersebut, kami mendapat banyak pencerahan tentang menulis populer melalui materi-materi presentasi beliau. Materi singkat, padat, dan jelas tersebut serasa obat bagi kegalauan kami dalam menulis. Dengan beberapa tips yang dibagikan beliau kepada kami, kami seperti mendapatkan sebuah jalan tol baru dalam perjalanan menulis kami ini.
Dari tips-tips berikut, mungkin bisa diambil sebagian atau keseluruhannya untuk dijadikan bahan refera
TIPS-TIPS menulis populer yang semoga membuat anda populer juga. amin.. :D
1.Jangan Menyiksa Pembaca
mengapabisamenyiksapembaca?jikakurangkjelasbacakalimatiniberulangulang. Ya.. agak pusing kan? berarti anda normal. Kalau anda bisa, anda sungguh LUAR BIASA. JIKA PADA KALIMAT AWAL ADALAH KALIMAT TAK BERSPASI YANG MENGGANGGU, BAGAIMANA DENGAN PERASAAN ANDA SAAT MEMBACA INI? Rasanya g enak juga kan? Seperti ada nada marah atau emosi. yah, intinya, bacalah tulisan anda dulu. jika enak nyaman dibaca, baru kasihkan ke orang lain.
2. Orientasi Pembaca
Untuk siapa kita menulis jika bukan untuk pembaca yang budiman? Untuk itu, dalam menulis kita juga harus berempati dengan cara mengetahui siapa target pembaca tulisan kita? Dengan mengetahui tersebut, paling tidak kita bisa menggunakan diksi (pilihan kata) yang tidak menyusahkan pembaca. Tulisan kita juga harus mudah dipahami. Sekali lagi, jangan menyiksa pembaca dengan cara apapun. Sadari juga, bahwa pembaca sangat beragam. Jadi, jika seorang bilang buruk tapi kebanyakan bilang baik, anggap saja yang 1 tersebut sebagai saran.
3. Hindari Istilah Asing
Tidak perlu memakai istilah yang aneh-aneh. Semakin banyak istilah aneh, namanya setilah. hehehe. Tulis saja apa adanya dengan bahasa yang enak dan mudah dipahami. Istilah asing kadang-kadang juga diperlukan. Jadi, harus melihat siapa pembacanya dulu. Yang penting, pembaca paham.
4. Hindari Jargon, Singkatan, dan Akronim
Obligasi rekap.
Lapas.
Saya yakin pembaca telah mengerti istilah-istilah tersebut. Tetapi, bukankah lebih mudah dipahami bila menggunakan istilah yang biasa saja? Dimana obligasi rekap yang berarti hutang triliunan dari rakyat dan lapas yang berarti penjara. Untuk itu, marilah mencintai menulis dengan bahsa yang sederhana saja. Lebih mudah dipahami lebih bermanfaat.
Semoga beberapa ilmu yang telah anda baca bermanfaat.
Salam sukses..
Sikap yang ramah dan terbuka membuat kami antusias dalam kuliah tamu tersebut.
Dalam kesempatan langka tersebut, kami mendapat banyak pencerahan tentang menulis populer melalui materi-materi presentasi beliau. Materi singkat, padat, dan jelas tersebut serasa obat bagi kegalauan kami dalam menulis. Dengan beberapa tips yang dibagikan beliau kepada kami, kami seperti mendapatkan sebuah jalan tol baru dalam perjalanan menulis kami ini.
Dari tips-tips berikut, mungkin bisa diambil sebagian atau keseluruhannya untuk dijadikan bahan refera
TIPS-TIPS menulis populer yang semoga membuat anda populer juga. amin.. :D
1.Jangan Menyiksa Pembaca
mengapabisamenyiksapembaca?jikakurangkjelasbacakalimatiniberulangulang. Ya.. agak pusing kan? berarti anda normal. Kalau anda bisa, anda sungguh LUAR BIASA. JIKA PADA KALIMAT AWAL ADALAH KALIMAT TAK BERSPASI YANG MENGGANGGU, BAGAIMANA DENGAN PERASAAN ANDA SAAT MEMBACA INI? Rasanya g enak juga kan? Seperti ada nada marah atau emosi. yah, intinya, bacalah tulisan anda dulu. jika enak nyaman dibaca, baru kasihkan ke orang lain.
2. Orientasi Pembaca
Untuk siapa kita menulis jika bukan untuk pembaca yang budiman? Untuk itu, dalam menulis kita juga harus berempati dengan cara mengetahui siapa target pembaca tulisan kita? Dengan mengetahui tersebut, paling tidak kita bisa menggunakan diksi (pilihan kata) yang tidak menyusahkan pembaca. Tulisan kita juga harus mudah dipahami. Sekali lagi, jangan menyiksa pembaca dengan cara apapun. Sadari juga, bahwa pembaca sangat beragam. Jadi, jika seorang bilang buruk tapi kebanyakan bilang baik, anggap saja yang 1 tersebut sebagai saran.
3. Hindari Istilah Asing
Tidak perlu memakai istilah yang aneh-aneh. Semakin banyak istilah aneh, namanya setilah. hehehe. Tulis saja apa adanya dengan bahasa yang enak dan mudah dipahami. Istilah asing kadang-kadang juga diperlukan. Jadi, harus melihat siapa pembacanya dulu. Yang penting, pembaca paham.
4. Hindari Jargon, Singkatan, dan Akronim
Obligasi rekap.
Lapas.
Saya yakin pembaca telah mengerti istilah-istilah tersebut. Tetapi, bukankah lebih mudah dipahami bila menggunakan istilah yang biasa saja? Dimana obligasi rekap yang berarti hutang triliunan dari rakyat dan lapas yang berarti penjara. Untuk itu, marilah mencintai menulis dengan bahsa yang sederhana saja. Lebih mudah dipahami lebih bermanfaat.
Semoga beberapa ilmu yang telah anda baca bermanfaat.
Salam sukses..
Minggu, 30 Oktober 2011
ALANGKAH LUCUNYA (NEGERI INI)
Produced by : Zairin Zain
Written by : Musfar Yasin
Starring : Reza Rahadian, Tika Bravani, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo,Tio Pakusadewo, Jaja Mihardja, Asrul Dahlan, Rinna Hasyim, Teuku Edwin, Sonia, Robby Tumewu, Sakurta Ginting, Boy, Angga
Music by : Ian Antono
Cinematography : Yudi Datau
Editing by : Tito Kurnianto, Enjah, Hanif Ridlo
Studio : CitraSinema
Runningtime : 100 minutes
Country : Indonesia
Language : Indonesian
Selalu ada yang menarik di dalam Deddy Mizwar. Deddy Mizwar yang menjadi sutradara sekaligus pemeran dalam film "Alangkah Lucunya (negeri ini)" menyajikan suatu fenomena permasalahan klasik rakyat Indonesia khususnya anak-anak jalanan dengan sangat 'mengena' hati. Film yang awalnya aku duga seperti film-film Indonesia lain yang hanya begitu-begitu saja malahan menjadi suatu lecutan diri untuk sadar akan dunia yang berbeda.
Film ini diawali dari perjalanan seorang Muluk (Reza Rahardian) yang bergelar S1 Manajemen mencari pekerjaan dengan berbekal iklan koran. Pencarian yang tak kunjung membuahkan hasil, mengenalkan Muluk pada Komet (Angga) si pencopet. Saat itu, Komet ketahuan sedang mencopet di pasar dan oleh Muluk dikejar dan terjadi beberapa dialog yang menggelitik jiwa. Oleh Muluk ditanya, "Mengapa mencopet? Kalau butuh kan tinggal minta." yang dijawab se khasnya seorang anak polos "Saya kan pencopet, bukan peminta-minta." Mendengar hal itu, Muluk seperti tersengat hatinya dan melepaskan si Komet.
Masih dalam pencarian pekerjaan, pada saat Muluk makan, ia bertemu si Komet lagi. Setelahnya, Komet mengajaknya ke "kantor copet" dan mengenalkannya kepada Jarot (Tio Pakusadewo) sang bos copet. Perkenalan tersebut membuahkan perjanjian kerjasama antara aliansi copet dan Muluk. Muluk mengolah uang hasil copet dan sebagai imbalannya memperoleh 10 darinya.
Ketika mulai beraktifitas, timbullah pertanyaan dari Makbul (Deddy Mizwar) ayah Muluk, "Sibuk sekali kau, sudah dapat kerjaan?" Muluk mengaku dia bekerja di perusahaan bagian pengembangan Sumber Daya Manusia. Sungguh jawaban yang menggelitik.
Untuk mencapai cita-cita Muluk yaitu mengangkat martabat pencopet menjadi pedagang asongan yang berpendidikan, dia meminta bantuan temannya Syamsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Tika Bravani).
Awal Syamsul mengajar, dia kesulitan memberikan alasan mengapa harus pencopet harus naik tingkat dan berpendidikan. Alhasil, dia pun memberikan contoh Koruptor yang bisa dikatakan sebagai pencopet profesional dan hidup bergelimpang harta. "Aku mau bang jadi Koruptor." dengan ringan mereka berseloroh dan mulai bersemangat untuk belajar. Di lain sisi, Pipit mengajar tentang agama islam. Dalam filmnya, mereka benar-benar tak pernah disentuh oleh pendidikan maupun agama.
Konflik mulai memuncak ketika Pak Makbul (ayah Muluk), Haji Sarbini (calon mertua Muluk), dan Haji Rahmat(ayah Pipit) bersikeras melihat tempat kerja Muluk. Mereka sungguh terkejut melihat anak-anak mereka ternyata bekerja dengan pencopet. Dan yang lebih menyakitkan hati para orangtua adalah saat mereka menyadari bahwa makanan yang selama inimereka makan berasal dari uang hasil copet.
Pertentangan batin yang hebat para ketiga tokoh tersebut menyebabkan ketiganya berhenti mengajar anak-anak tersebut. Sungguh pilihan yang amat berat, dimana mengajar anak-anak pencopet itu agar dapat mandiri namun memperoleh uang haram, atau meninggalkan mereka tanpa berbuat apa-apa lagi.
Berhasilkah mereka mengubah masa depan anak-anak pencopet?
Ayo kita tonton saja filmnya. :D
Langganan:
Postingan (Atom)

