Minggu, 11 Desember 2011

KOMIK ONLINE GRATIS(bukan IKLAN)


            Bacaan hiburan komik, dulu hanya bisa dinikmati dalam bentuk buku atau dalam media seperti koran atau majalah saja. Dengan harga yang cukup merogoh isi kantong banyak penggemarnya terutama anak sekolah, buku komik masih sulit dijangkau. Namun berkat teknologi internet yang lagi-lagi memberi kemudahan bagi manusia kini komik bisa dibaca secara online dan gratis. Satu – satunya perusahaan penerbitan komik online di Indonesia, adalah situs www.makko.co. Bukan hanya hadir sebagai satu-satunnya publishing komik online, makka juga berusaha mempopulerkan kembali komik Indonesia dalam semua judul ceritanya.
            Makko merupakan situs yang menyajikan hiburan komik secara gratis lengkap dengan artikel. Dengan bantuan modal dari seorang investor sebesar 1 miliar rupiah, Makko didirikan pada bulan Oktober tahun 2010 oleh Sunny Gho, Managing Director Makko. Uwi Manthovani, selaku Chief Editor Makko dan Mehdi, Executive Director Makko. Walaupun media online sudah menjamur, namun kehadiran Makko sebagai komik online tidak bermaksud untuk mengganti posisi komik cetak. Komik online ini untuk mengatasi masalah distribusi yang tidak merata pada komik cetak. Nah, dengan komik online yang mereka buat dan dibaca secara gratis sehingga siapapun bisa baca komik.
Sarana Media Iklan Kreatif
            Walapun disajikan secara gratis, bukan berarti tidak ada unsur bisnis di dalam komik online Makko. Sebaliknya setiap halaman cerita yang dibuat Makko dapat menghasilkan keuntungan. “Makko didirikan, dengan melihat peluang bisnis yang cukup menarik. Kita tidak melihat si komik online ini seperti komik cetak, habis baca cukup, dan langsung disimpan. Tapi komik online ini ke depannya, bisa didaur ulang menjadi film, iklan,” jelas Sunny Gho
            Yang dibicarakan Sunny soal peluang usaha dari komik online buka isapan jempol semata karena Makko saat ini sudah menuai keuntungan dari bisnis komik onlinenya. Makko menawarkan bentuk iklan bukan hanya sekedar display. Tetapi, dengan cara yang baru dan menarik, yaitu menyajikan iklan secara generik dalam arti iklan masuk ke dalam cerita. Hal ini karena segmen Makko adalah kalangan remaja, sehingga tampilan iklan semacam advertorial yang bermain kata-kata atau display dihindari.
            Dengan masuknya iklan dalam cerita, produk pengiklan akan muncul beberapa kali dalam cerita, amaka produk tersebut akan terekam oleh pembaca. Melalui komik online, makko juga termasuk perusahaan trans media untuk memasang iklan. “ Biasanya iklan di media lain hanya tampilan display saja. Di Makko, iklan akan masuk dalam cerita komik. Contohnya, seprti klien iklan kami, dari salah satu produk kendaraan. Produk mobil tersebut akan muncul dalam cerita, misalnya dikendarai oleh karakter tokoh utama. Ada juga klien iklan kami dari produk kopi, yang kami turut tayangkan dalam cerita komik yang berjudul 5 Menit Sebelum Tayang. Dari kedua klien ini Makko sudah mengantongi omset 60 juta. Belum lagi pendapatan yang kita dapat dari penyelenggaraan acara yang membawa karakter komik Makko. Sejak kami mulai online di bulan Mei 2011, Makko sudah mengantongi omset sekitar Rp 200 juta “ ungkap Sunny.
            Dengan omset yang fantastis untuk beberapa kerjsama iklan dan penyelenggaraan acara. Makko kini semakin gencar mengenalkan karakter komik online mereka. Tujuannya, supaya masyarakat mengenal kemudian suka dan menjadi fans dari karakter komik online Makko. Sehingga karakter komik tersebut akan dialihkan menjadi marchandise berupa mainan atau kaos yang diperjual-belikan. Dengan begitu komik online sudah menciptakan ladang bisnis baru.
            Sebaliknya, Makko tidak hanya mencari keuntungan tanpa ada pengeluaran. Karena pengeluaran utama dalam bisnis ini adalah membayar honor komikus yaitu 100 ribu untuk setiap halaman. Deadline bagi komikus sebulan harus bisa menyelesaikan 24 halaman. Jadi kalau si komikus mampu beserta covernya, komikus tersebut akan menerima pembayaran 2,5 juta perbulannya. Selain kreatif mencari peluang bisnis, Makko juga memberikan peluang usaha bagi komikus.

Gak Cupkup diBayangkan Saja!!!

 
Pernahkah anda membangun rumah? Oh, sebentar,, Jika belum, bayangkan saja. Hehe.. Ketika kita mau membangun rumah, kita memanggil seorang arsitek. Lalu bersama seorang arsitek anda membuat konsep(kerangka) bangunan yang ingin kita buat.
Menyangkut kehidupan anda pernahkah anda merancang diri anda sendiri mau jadi seperti apa di masa yang akan datang ? Anda sendirilah perancang utama kehidupan anda entah anda menyadarinya atau tidak. sekarang anda "bayangkan diri anda sebagai permadani raksasa yang bisa di gelar dengan pola apapun sesuka anda setiap hari anda tambahkan benang pengalaman manis, pahit ,getir ,mendebarkan ,mengecewakan , ke putus asaan , bersemangat ke dalam tenunannya......Apakah anda akan membangun tirai penghalang untuk bersembunyi di belakangnya ? atau anda akan membuat "permadani ajaib" yang akan membawa anda ke ketinggian yang tiada tara. Atau anda akan merubah rancangannya sehingga ingatan-ingatan yang memberdayakan andalah yang menjadi pusat maha karyanya.
Apabila jin' bola lampu ajaib mendatangi anda, anda tinggal menyerahkan proposal kehidupan yang anda inginkan. Atau anda masih bingung apa sebenarnya yang anda inginkan ? dengan jalan apa bisa saya wujudkan ? buatlah peta kehidupan dari tujuh sisi intelektual, financial, sosial ,estetic, fisic ,spiritual ,emosional......yang benar-benar anda inginkan. apakah tulisan ini perlu di lanjutkan ? bagaimana membuat" peta hidup" sebagai proposal diri anda pribadi ?
Mulailah mengejar impian sedini mungkin ... !
“Sebuah workbook yang inspiratif dan memandu tuk menyusun rencana hidup kita demi menggapai kesuksesan”
            Tuhan, Inilah Proposal Hidupku … Itulah sebuah buku (bisa dikatakan sebuah workbook) yang ditulis oleh Jamil Azzaini dan harus kubeli. Proposal hidup ? Apakah itu? Aku sangat penasaran. Yang kuketahui adalah proposal kegiatan karena aku terbiasa ikut serta merampungkan proposal kegiatan di sekolah dulunya.
            Mengapa ada proposal hidup ?
        Karena untuk membuat sebuah acara dua hari bahkan setengah hari saja membutuhkan proposal. Mengapa untuk hidup kita yang berjalan puluhan tahun tidak membuat proposal ? itulah pertanyaan yang menyadarkan kita sebagai aktivis di organisasi. Jadi, jangan biarkan hidup kita mengalir tanpa tujuan, impian atau cita-cita untuk menggapai kesuksesan.
Proposal Hidup menuntun kita untuk mengerti tentang betapa berharganya diri kita sendiri. Sekali lagi, bukan atas dasar narsistis, melainkan penghargaan self awareness yang sering terabaikan, bahkan oleh masing-masing pribadi.
Eittss.. jangan senang dulu. Jangan kira setelah menulis, hidup kita tiba-tiba berubah, tercapainya target atau jadi kaya. Orang hebat ataupun orang sukses itu bukan karbitan! Proposal hidup hanya bekal. Sisanya, tentu saja konsistensi, motivasi dan yang terpenting adalah usaha keras.
Azzaini berbagi keutamaan hidup teratur dengan kita. Filosofi ?biarlah hidup mengalir seperti air’ boleh diyakini, tapi ada baiknya kita sendirilah yang mulai mengatur hidup. Tulisan dalam proposal hidup adalah motivasi, our own direction, supaya kita tidak lupa tujuan utama dalam hidup.
Dan proposal itu dibuat tuk meraih prestasi tertinggi di hadapan Allah.


Lihatlah dengan ketiga mata!

Lihatlah melalui mata dan hati kita. Betapa luar biasa beberapa anak desa dari nun jauh disana dalam perjuangannya di pesantren Gontor itu. Melalui novel terlaris karya Ahmad Fuadi "Negeri 5 Menara" Fuadi menceritakan kisah lima orang sahabat yang mondok di sebuah pesantren, dan kemudian bertemu lagi ketika mereka sudah beranjak dewasa. Uniknya, setelah bertemu, ternyata apa yang mereka bayangkan ketika menunggu Azhan Maghrib di bawah menara masjid benar-benar terjadi.
Ahmad Fuadi yang berperan sebagai Alif di novel itu berkisah, ia tak menyangka dan tak percaya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pemuda asal Desa Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu adalah pemuda desa yang diharapkan bisa menjadi seorang guru agama seperti yang diinginkan kedua orangtuanya. Keinginan kedua orangtua Fuadi tentu saja tidak salah. Sebagai “amak” atau Ibu kala itu, menginginkan agar anak-anaknya menjadi orang yang dihormati di kampung seperti menjadi guru agama.
“Mempunyai anak yang sholeh dan berbakti adalah sebuah warisan yang tak ternilai, karena bisa mendoakan kedua orangtuanya mana kala sudah tiada,” ujar Ahmad Fuadi mengenang keinginan Amak di kampung waktu itu.
Namun ternyata Fuadi alias Alif mempunyai keinginan lain. Ia tak ingin seumur hidupnya tinggal di kampung. Ia mempunyai cita-cita dan keinginan untuk merantau. Ia ingin melihat dunia luar dan ingin sukses seperti sejumlah tokoh yang ia baca di buku atau mendengar cerita temannya di desa. Namun, keinginan Alif tidaklah mudah untuk diwujudkan. Kedua orangtuanya bergeming agar Fuadi tetap tinggal dan sekolah di kampung untuk menjadi guru agama. Namun berkat saran dari ”Mak Etek” atau paman yang sedang kuliah di Kairo, akhirnya Fuadi kecil bisa merantau ke Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur. Dan, disinilah cerita kemudian bergulir. Ringkasnya Fuadi kemudian berkenalan dengan Raja, Atang,Dulmajid, Baso dan Said.
Kelima bocah yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gontor ini setiap sore mempunyai kebiasaan unik. Menjelang Azan Maghrib berkumpul di bawah menara masjid sambil melihat ke awan. Dengan membayangkan awan itulah mereka melambungkan impiannya. Misalnya Fuadi mengaku jika awan itu bentuknya seperti benua Amerika, sebuah negara yang ingin ia kunjungi kelak lulus nanti. Begitu pula lainnya menggambarkan awan itu seperti negara Arab Saudi, Mesir dan Benua Eropa.
Melalui lika liku kehidupan di pesantren yang tidak dibayangkan selama ini, ke lima santri itu digambarkan bertemu di London, Inggris beberapa tahun kemudian. Dan, mereka kemudian bernostalgia dan saling membuktikan impian mereka ketika melihat awan di bawah menara masjid Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur.
Belajar di pesantren ternyata memberikan warna tersendiri bagi kehidupan seseorang. Mereka  yang tadinya beranggapan bahwa pesantren adalah konservatif, kuno, ”kampungan” ternyata adalah salah besar. Jika kita lihat di pesantren Gontor ternyata benar-benar menjujung disiplin yang tinggi, sehingga mencetak para santri yang bertanggung jawab dan komitmen. Di pesantren mental para santri itu ”dibakar” oleh para ustadz agar tidak gampang menyerah. Setiap hari, sebelum masuk kelas, selalu didengungkan kata-kata mantera ”Manjadda Wajadda” jika bersungguh-sungguh akan berhasil.
Kita yang sering melihat sebelah mata dengan keberdaan pesantren, kita yang meragukan kualitasnya, apa tidak sadar melihat seberapa kualitas pesantren melalui jendela novel “Negeri 5 Menara” ini? Negeri ini sedang membutuhkan sosok pemimpin yang beradap. Dan Pesantren Gontor pun memberikan kontribusi yang besar terhadap wajah bangsa ini yang mulai bangkit. Mari kita dukung setiap lembaga pendidikan di negeri ini termasuk pesantren. Semoga mereka tetap konsisten mencetak kader-kader bangsa berkualitas. Karena bangsa yang besar berawal dari orang-2 “besar”.