Surabaya, ITS kebanjiran? sudah biasakah universitas yang sebagian lahannya adalah rawa ini kebanjiran disaat musim penghujan? Rabu(9/11) inilah kali pertama aku melihat ITS kebanjiran. Karena, ini adalah tahun pertamaku di ITS.
Hujan semalaman suntuk sampai pagi ini, membuat sungai meluap da menimbulkan genangan air dimana-mana. Bangun pagi untuk sekedar beraktifitas pun menjadi agak malas karena diluar sana basah dan becek.
Berbekal keinginan untuk mencari sarapan, petualangan di pagi yang basah dimulai. Brum.. brum.. deru mesin motorku membelah gelombang air bak perahu ditengah lautan. Wauw... Sungai samping kos, meluap. Jalanan yang terbentang disampingnya pun tertutupi oleh air yang lumayan tinggi.
Menerobos di tengah rintik hujan yang halus, rasa sejuk mulai hinggap di dada. Entah mengapa bayanganku melompat ke kota Bogor yang dikenal kota hujan. Mungkin seperti inilah sejuknya kota bogor yang sedang diguyur hujan. Yups, semoga aku bisa kesana tahun depan. hehe
Dengan rute Mulyosari, Keputih, ITS, gebang dan kembali ke kos lagi, terasa sangat berbeda pagi ini. Begitu indah. Andai seluruh kotanya bersih seperti di ITS, pasti nikmat sekali untuk dijadikan tempat bersantai.
Sarapan pecel di samping jalan depan Sakinah sembari menikmati rintik hujan yang malu-malu menyentuh kaki, sungguh nikmat sekali. Meneguk segelas teh hangat untuk menyiapkan diri dalam perjalanan selanjutnya.
Rawa ITS pun terisi oleh tetasan air hujan dari hari kemarin. Ayo, siapa yang ingin memancing atau main perahu?? Kata dosenku, "Biasanya di samping kelas ini ada ikannya juga lho." Semoga ada yang berbaik hati memasakkan ikan untuk kita. hehe. Kuliah sambil memancing? atau kuliah sambil melamun menerawang dibalik jendela kelas menelusuri keindahan rintik hujan? ah.. semuanya befitu indah..
Just for fun,,, hehhe
Ya Allah, izinkanlah kami hidup 1 hari lagi untuk berbuat yang terbaik dan bermanfaat.
Selasa, 08 November 2011
Algoritma Pemrogaman bikin Sekarat?
Praktikum 1 = gagal
praktikum 2 = gagal
praktikum 3.....= gagal? :(
Gagal maning- gagal maning. Dengan penuh kesadaran, kami tahu kami tak bisa. Tapi kami tak mengerti apa yang kami tak bisa. Mungkin karena kami tak mempelajarinya sedikitpun. Sehingga, hanya ketidaktahuanlah yang kami mengerti.
Seperti halnya bayi yang baru lahir. Kami pun mempelajari suatu bahasa ibu -mesin- dengan susah payah. Perbedaanya, mungkin hasrat keingintahuan kami hanyalah secuil bagian dari semangat seorang bayi yang baru belajar apapun. Sungguh sangat berbeda.
Sekarat!!! Itulah ancaman jika kita tidak bisa alpro. Bagaimana bisa hidup selama 4 tahun berdampingan dengan program jika kita tidak bisa berkomunikasi -berbicara- dengan program itu sendiri? Halo... Sadarlah..
HIDUP ENGGAN MATIPUN SEGAN! Bagaimana tidak? Semester 1 s/d 8 nanti, kami akan berkutat dengan pemrograman tetapi tahu tentang bahasa pemrogaman pun tidak. Apa akan terus bergantung dengan baceman - contekan- teman? peribahasa itulah yang mungkin pas dengan kita hingga kita mau berubah.
Jika aku tak bisa alpro:
1. dll
2. dll
3. dll
4. alpro semester 2, semakin menyiksa batin = stres.
5. kalo lulus(beruntung), berjumpa dengan matkul lain yang tetap berhubungan dengan alpro. Dan fobia pemrogaman pun kambuh.
6. membuang-buang nyawa (time is your life). gimana nggak? Kita hanya berpura-pura duduk manis dikelas tanpa belajar apapun.
7. mengecewakan orang tua.
8. stres berat.
9. gila!!! hahaha
Bodohnya aku. Aku tidak menyukai alpro. Dan sampai sekarang, ALPRO IS NOTHING. Big "0".
Tapi aku lebih benci sekarat selama 8 semester kedepan jika tidak mulai belajar. Ini Alproku, gimana alpromu? hehehe.
Mari belajar teman. Baru setengah perjalanan kita belajar di semester 1. Mari kita hargai hidup kita dengan sedikit lika-liku alpro yang tidak sesederhana membalikkan tangan.
Nikmati saja kesulitan belajar alpro seperti menikmati seduhan kopi hangat pahit di malam hujan yang dingin. Nikmati saja...
Semoga tak hanya menjadi sebuah unek-enek-enak.. hehehe
Hiduplah ALPRO....
Amin... Semoga beneran mudah...
Senin, 07 November 2011
10 % kuliah. Sudut Pandang Kegelapan Semu
7 Nopember 2011. Disaster! “Apakah algoritma itu? “, Senyap.
“Apakah pemrogaman?”, Hening. “Lalu, apakah alpro?” Sepi. “Jangan-jangan kalian
tidak tahu apa itu diskrit?” ungkap Pak Mukhlason seorang dosen Matematika
Diskrit yang akrab dipanggil dengan Cak Son saat mengajar jurusan Sistem
Informasi kelas D angkatan 2011. Hanya terdengar suara Cak Son yang bergetar di
dalam kelas yang biasa ramai itu. Betapa mengiris hati suaranya, “Jika kalian
tidak tahu apa itu Matematika Diskrit, lalu 9 minggu ini kalian belajar apa
denganku?”
Realita kehidupan mahasiswa sekarang tak jauh berbeda dari
hal seperti itu. Saat ini kita (mahasiswa) jarang sekali yang berniat belajar
dengan serius. Adapun kuliah kadang hanya untuk bergaya dan pamer.
Jarang ada mahasiswa yang ketika kuliah telah memiliki
impian 10 tahun kedepan sebagai navigasi kemana arah perjalanan hidup ini.
Karena tidak adanya hasrat untuk menjadi apa inilah, banyak mahasiswa yang
ketika belajar sering merasa down (jenuh,
bosan, malas, dll). Alih-alih belajar dengan giat. Malahan sering kita tidak
mengerti apa yang sedang kita pelajari seperti kutipan dialog diatas.
“Biarlah mengalir seperti air.” Kata mereka. Datang kuliah,
duduk, bercengkrama dengan teman dan sesekali menoleh ke arah dosen untuk
sambilan obrolan. Mungkin sedikit berlebihan. Tapi, begitulah realitanya.
Begitulah rutinitas mahasiswa kekinian yang mengikut paham mengalir seperti air
yang salah.
Walaupun air mengalir mengikuti lengkokan tanah, aliran air
tetap meiliki tujuan akhir, yaitu laut atau samudra. Inilah yang terlewatan
dari pola pikir kita. Hanya mengalir tanpa tujuan yang jelas yang berakhir
tanpa kejelasan.
90% mahasiswa indonesia memiliki pola pikir rekreasi. Jalan-jalan,
nongkrong, dan nonton. Gaya hidup mahasiswa yang cenderung kurang tepat inilah
yang baru menjadi tren di masa global ini. Walaupun hiburan itu perlu,
sepertinya akan lebih bijak jika mengetahui porsi secara tepat untuk rehat
diri.
10 tahun kedepan, hanyalah terdapat segerombol sarjana yang
kerjanya hanyalah nongkrong, main, dan lain-lain sebagaimana aktivitas mereka
ketika kuliah. Kenapa tidak kerja? Tanyakan saja pada mereka 10 tahun kedepan.
Jangan-jangan sekarang malahan sudah ada panen sarjana berprofesi ahli
nongkrong dan sebagainya?
Bagaiman wajah Indonesia kita tercinta ini di masa akan
datang jika kita sebagai mahasiswa hanyalah senang bermain-main?
Selagi masih dalam tahap belajar (belajar kan seumur hidup),
marilah berbebah diri dengan menyelaraskan niat untuk kemajuan negeri ini.
Dan milikilah beberapa impian yang baik untuk diri kita,
keluarga kita, dan bangsa kita tercinta ini. Hidup Indonesia!!!
Langganan:
Postingan (Atom)